Skandal ‘Battery Locking’ Guncang China: Mengapa Jarak Tempuh Mobil Listrik Mendadak Menyusut?

Dewi Amalia | Menit Ini
12 Mei 2026, 12:51 WIB
Skandal 'Battery Locking' Guncang China: Mengapa Jarak Tempuh Mobil Listrik Mendadak Menyusut?

MenitIni — Industri otomotif global kini tengah menyoroti langkah tegas pemerintah Tiongkok dalam menghadapi sebuah praktik yang meresahkan para pemilik mobil listrik (EV) di negara tersebut. Fenomena yang dikenal dengan istilah ‘battery locking’ atau penguncian kapasitas baterai kini menjadi pusat penyelidikan otoritas setempat setelah gelombang keluhan konsumen meledak di berbagai platform media sosial dan lembaga perlindungan konsumen.

Praktik ini diduga dilakukan oleh sejumlah produsen kendaraan dengan cara memodifikasi parameter sistem melalui pembaruan perangkat lunak secara nirkabel atau yang dikenal sebagai Over-the-Air (OTA). Tanpa pemberitahuan yang transparan, performa kendaraan yang semula menjadi nilai jual utama tiba-tiba menurun drastis, menyisakan kekecewaan mendalam bagi para pemiliknya.

Baca Juga

Chery Q Guncang Pasar Mobil Listrik Indonesia: Intip Spesifikasi, Harga, dan Bonus Mewah Senilai Rp 40 Juta

Chery Q Guncang Pasar Mobil Listrik Indonesia: Intip Spesifikasi, Harga, dan Bonus Mewah Senilai Rp 40 Juta

Misteri Hilangnya Jarak Tempuh Secara Tiba-Tiba

Laporan yang dihimpun dari China Media Group mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan. Banyak pengguna teknologi baterai mengeluhkan bahwa mobil yang mereka beli dengan janji jarak tempuh sekitar 500 kilometer berdasarkan standar CLTC (China Light-Duty Vehicle Test Cycle), mendadak hanya mampu menempuh jarak kurang dari 300 kilometer dalam penggunaan nyata sehari-hari.

Penurunan yang mencapai hampir 40 persen ini terjadi tepat setelah pemilik melakukan pembaruan sistem operasi kendaraan. Kasus ini mencuatkan pertanyaan besar mengenai etika produsen dalam mengelola aset digital yang sudah dibeli oleh konsumen. Bayangkan Anda membeli sebuah kendaraan ramah lingkungan dengan ekspektasi mobilitas tinggi, namun kapasitasnya dipangkas secara sepihak dari balik layar komputer pabrikan.

Baca Juga

Menengok Strategi Daihatsu di GIICOMVEC 2026: Gran Max Masih Jadi ‘Urat Nadi’ Pengusaha Nasional

Menengok Strategi Daihatsu di GIICOMVEC 2026: Gran Max Masih Jadi ‘Urat Nadi’ Pengusaha Nasional

Apa Itu ‘Battery Locking’ dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Secara teknis, ‘battery locking’ adalah tindakan membatasi akses terhadap kapasitas energi penuh yang tersimpan dalam sel baterai. Setiap mobil listrik memiliki Battery Management System (BMS) yang berfungsi sebagai otak pengatur aliran daya, suhu, dan kesehatan baterai. Melalui pembaruan OTA atau proses flashing di bengkel resmi, produsen dapat mengubah algoritma BMS untuk menurunkan batas atas pengisian (SOC) atau meningkatkan batas bawah pengosongan daya.

Dampaknya sangat sistematis:

  • Kapasitas baterai yang dapat digunakan oleh pengemudi menjadi lebih kecil dari spesifikasi awal.
  • Daya pengisian dibatasi untuk mencegah panas berlebih, yang berakibat pada durasi pengecasan yang lebih lama.
  • Kedalaman pelepasan daya (Depth of Discharge) dikurangi untuk menjaga stabilitas sel, namun mengorbankan fungsionalitas jarak tempuh.

Keluhan Pengisian Daya yang Menjadi ‘Siput’

Masalah tidak berhenti pada jarak tempuh saja. Para pengguna juga melaporkan adanya penurunan signifikan pada kecepatan pengisian daya cepat (DC Fast Charging). Jika sebelumnya pengisian dari 10 persen ke 80 persen hanya membutuhkan waktu sekitar 40 menit, pasca pembaruan perangkat lunak, waktu yang dihabiskan di stasiun pengisian daya membengkak hingga 70 menit atau lebih.

Baca Juga

Rahasia Umur Ban Lebih Panjang: Panduan Profesional Rotasi, Spooring, dan Balancing untuk Keamanan Berkendara

Rahasia Umur Ban Lebih Panjang: Panduan Profesional Rotasi, Spooring, dan Balancing untuk Keamanan Berkendara

Kondisi ini tentu sangat merugikan bagi masyarakat perkotaan yang memiliki mobilitas tinggi dan bergantung pada efisiensi waktu pengecasan. Investigasi lebih lanjut oleh pemerintah China kini mencoba memetakan apakah ini merupakan strategi tersembunyi produsen untuk menutupi cacat desain atau sekadar upaya preventif yang berlebihan.

Keamanan vs Transparansi: Dilema Pabrikan

Di sisi lain, sejumlah produsen otomotif di Negeri Tirai Bambu membela diri dengan alasan keamanan. Mereka berargumen bahwa seiring bertambahnya usia kendaraan, stabilitas kimiawi di dalam baterai dapat menurun. Dengan melakukan ‘penguncian’ sebagian kapasitas, risiko kebakaran akibat thermal runaway dapat diminimalisir, dan usia pakai komponen baterai bisa diperpanjang.

Namun, para analis industri berpendapat bahwa alasan keamanan seharusnya tidak dijadikan tameng untuk melakukan penipuan spesifikasi. Konsumen merasa terjebak karena mereka membayar harga penuh untuk kapasitas baterai tertentu, namun pada akhirnya tidak mendapatkan apa yang dijanjikan di brosur penjualan. Kurangnya transparansi dalam catatan pembaruan (patch notes) OTA menjadi titik lemah yang memicu kemarahan publik.

Baca Juga

Xiaomi YU7 GT: Monster SUV Listrik 990 HP Resmi Memasuki Jalur Produksi Massal

Xiaomi YU7 GT: Monster SUV Listrik 990 HP Resmi Memasuki Jalur Produksi Massal

Lanskap Industri Baterai China yang Agresif

Penyelidikan ini terjadi di tengah persaingan teknologi baterai yang semakin sengit di Tiongkok. Beberapa bulan terakhir, industri ini dibanjiri dengan klaim-klaim revolusioner, mulai dari pengembangan material pelindung baterai yang mampu menahan suhu ekstrem hingga 1.300 derajat Celsius, hingga teknologi pengisian super cepat yang menjanjikan pengisian penuh hanya dalam hitungan menit.

Persaingan yang terlalu agresif ini dikhawatirkan memicu produsen untuk merilis produk yang belum sepenuhnya matang ke pasar. Ketika masalah muncul di kemudian hari, mereka cenderung menggunakan pembaruan perangkat lunak untuk membatasi performa kendaraan guna menghindari klaim garansi massal atau risiko hukum yang lebih besar akibat insiden kecelakaan.

Baca Juga

INDOMOBIL Expo 2026: Panggung Megah ‘EVperience’ di Senayan City yang Mengubah Wajah Transportasi Masa Depan

INDOMOBIL Expo 2026: Panggung Megah ‘EVperience’ di Senayan City yang Mengubah Wajah Transportasi Masa Depan

Langkah Tegas Otoritas dan Dampaknya Bagi Konsumen

Pemerintah China kini memperketat pengawasan terhadap protokol pembaruan OTA. Regulasi baru mulai disusun untuk memastikan bahwa setiap perubahan yang memengaruhi performa inti kendaraan, seperti jarak tempuh dan kecepatan pengisian, harus mendapatkan persetujuan eksplisit dari pemilik kendaraan dan dilaporkan kepada regulator.

Bagi konsumen, langkah ini adalah angin segar demi terciptanya ekosistem industri otomotif yang lebih jujur. Kasus ini juga menjadi pelajaran berharga bagi negara lain, termasuk Indonesia, yang sedang gencar mendorong adopsi kendaraan listrik. Perlindungan konsumen terhadap aspek perangkat lunak kendaraan menjadi sama pentingnya dengan perlindungan terhadap fisik kendaraan itu sendiri.

Kesimpulan: Masa Depan Mobilitas Listrik yang Jujur

Skandal ‘battery locking’ ini menjadi pengingat bahwa di era mobil yang digerakkan oleh kode komputer, transparansi adalah kunci utama kepercayaan konsumen. Produsen tidak boleh hanya mengejar angka di atas kertas saat peluncuran, namun kemudian ‘mencuri’ performa tersebut di tengah jalan dengan alasan teknis yang tidak jelas.

Kini, publik menunggu hasil akhir dari investigasi pemerintah Tiongkok. Apakah para raksasa otomotif ini akan dipaksa melakukan recall perangkat lunak untuk mengembalikan performa asli kendaraan, ataukah akan ada kompensasi finansial bagi para pemilik yang merasa dirugikan? Satu hal yang pasti, mata dunia kini sedang tertuju pada bagaimana China menangani kemelut di jantung industri mobil listrik global ini.

Dewi Amalia

Dewi Amalia

Penulis spesialis gaya hidup dan kesehatan. Dewi memiliki minat besar pada isu mental health dan tren diet berkelanjutan.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *