Lanskap Wisata Berubah, Jepang Resmi Geser Posisi Indonesia sebagai Destinasi Favorit Turis Australia

Rendi Saputra | Menit Ini
20 Apr 2026, 08:51 WIB
Lanskap Wisata Berubah, Jepang Resmi Geser Posisi Indonesia sebagai Destinasi Favorit Turis Australia

MenitIni — Sebuah pergeseran tren yang signifikan tengah terjadi di pasar pariwisata internasional, khususnya bagi para pelancong dari Negeri Kanguru. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pencatatan bulanan pasca-pandemi, Jepang berhasil mengungguli Indonesia sebagai destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan asal Australia.

Berdasarkan rilis data terbaru dari Biro Statistik Australia (ABS) untuk periode Februari 2026, peta persaingan destinasi favorit turis Australia menunjukkan dinamika baru yang cukup mengejutkan. Meski Selandia Baru masih tetap kokoh di peringkat pertama sebagai tujuan perjalanan singkat lintas Tasman dengan 113.460 kunjungan, kejutan besar datang dari peringkat kedua dan ketiga yang biasanya didominasi oleh destinasi tropis.

Jepang Salip Dominasi Indonesia

Data ABS mengungkapkan bahwa terdapat 103.360 warga Australia yang baru saja kembali dari perjalanan ke wisata Jepang pada bulan Februari tersebut. Angka ini secara resmi melampaui jumlah kunjungan ke Indonesia yang mencatatkan 101.630 pelancong. Fenomena ini menjadi catatan sejarah tersendiri mengingat Indonesia, dengan daya tarik utama Bali, telah lama dianggap sebagai ‘rumah kedua’ bagi warga Australia selama musim liburan.

Baca Juga

Resep Fuyunghai Kukus dan Variasi Lezat Lainnya: Pilihan Menu Sehat untuk Keluarga

Resep Fuyunghai Kukus dan Variasi Lezat Lainnya: Pilihan Menu Sehat untuk Keluarga

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, perjalanan ke Jepang mengalami lonjakan sebesar 6,2 persen. Sebaliknya, angka kunjungan ke Indonesia justru menunjukkan tren penurunan sebesar 4,9 persen. Ini merupakan pertama kalinya Negeri Matahari Terbit tersebut mematahkan dominasi Indonesia sejak mulai membuka kembali pintunya bagi wisatawan mancanegara pada akhir 2022 lalu.

Fenomena ‘Halo Effect’ dan Kekuatan Rekomendasi

Peningkatan drastis ini tidak terjadi secara instan. James Kavanagh, CEO divisi leisure Flight Centre Travel Group, menyebutkan adanya faktor ‘efek halo’ yang sangat kuat. Menurutnya, pengalaman positif para pelancong yang telah mengunjungi Jepang menyebar dengan sangat cepat melalui testimoni dari mulut ke mulut, menciptakan gelombang ketertarikan baru.

Baca Juga

Upgrade Gaya Kasual Anda: Rekomendasi Celana Pendek Pria Berkualitas yang Sedang Tren

Upgrade Gaya Kasual Anda: Rekomendasi Celana Pendek Pria Berkualitas yang Sedang Tren

“Setiap pelancong yang kembali seolah-olah menjadi duta merek bagi Jepang. Siklus advokasi ini menciptakan momentumnya sendiri yang terus berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir,” jelas Kavanagh. Rekomendasi dari teman dan keluarga tetap menjadi faktor penentu utama bagi turis Australia dalam memilih tujuan liburan mereka ke luar negeri.

Melemahnya Yen dan Daya Tarik Musim Dingin

Selain faktor rekomendasi, aspek ekonomi juga memegang peranan krusial dalam pergeseran tren ini. Adam Schwab, CEO Luxury Escapes, menyoroti pelemahan nilai tukar Yen yang sangat drastis terhadap Dolar Australia. Pada Februari 2026, nilai tukar Dolar Australia mencapai level tertingginya dalam empat dekade terakhir terhadap mata uang Jepang.

Baca Juga

AIA Vitality Women’s 10K 2026: Menggerakkan Semangat Perempuan Melalui Ekosistem Lari yang Inklusif

AIA Vitality Women’s 10K 2026: Menggerakkan Semangat Perempuan Melalui Ekosistem Lari yang Inklusif

“Pada tahun 2019, satu dolar Australia hanya setara dengan sekitar 70 yen. Kini, angkanya mencapai 114 yen. Ini mengubah Jepang dari destinasi yang dianggap mahal menjadi salah satu pilihan dengan nilai ekonomis terbaik bagi warga Australia,” ungkap Schwab. Kombinasi antara budaya yang unik, fasilitas olahraga ski kelas dunia, dan biaya hidup yang kini lebih terjangkau membuat Jepang semakin sulit ditolak oleh para pelancong internasional.

Februari: Waktu Terbaik Mengunjungi Negeri Sakura

Bagi para pemburu penawaran terbaik, bulan Februari ternyata menjadi ‘golden time’ untuk mengunjungi Jepang. Kavanagh menyarankan waktu ini bagi mereka yang tidak terikat jadwal libur sekolah. Selain harga tiket pesawat dan akomodasi yang lebih bersahabat, wisatawan masih bisa menikmati kualitas salju yang luar biasa untuk bermain ski tanpa harus berdesakan di puncak musim liburan.

Di sisi lain, situasi geopolitik global juga turut mempengaruhi pola perjalanan. Sarah King, pakar perjalanan dari Expedia, mencatat adanya tren pergeseran menuju destinasi internasional jarak pendek yang lebih stabil. Situasi di Timur Tengah membuat perjalanan menuju Eropa terasa lebih sulit bagi sebagian orang, sehingga destinasi di Asia Pasifik seperti Jepang dan Bali tetap menjadi pilihan yang paling rasional.

Kini, tantangan besar menanti industri pariwisata Indonesia untuk kembali memikat hati wisatawan Australia agar tetap menjadikan tanah air sebagai destinasi utama di tengah gempuran pesona musim dingin dan kemudahan ekonomi yang ditawarkan oleh Jepang.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *