Misteri Tas Kulit T-Rex: Proyek Ambisius Bioteknologi yang Gagal Memikat Kolektor di Balai Lelang Paris

Rendi Saputra | Menit Ini
17 Jun 2026, 06:53 WIB
Misteri Tas Kulit T-Rex: Proyek Ambisius Bioteknologi yang Gagal Memikat Kolektor di Balai Lelang Paris

MenitIni — Dunia mode dan sains baru saja dikejutkan oleh sebuah fenomena yang tampak seperti fiksi ilmiah namun benar-benar terjadi di atas panggung lelang internasional. Sebuah tas tangan yang diklaim terbuat dari sel rekayasa laboratorium Tyrannosaurus Rex (T-Rex) baru-baru ini dilaporkan gagal terjual dalam sebuah sesi pelelangan bergengsi di Paris. Meskipun membawa narasi besar tentang kebangkitan makhluk purba melalui medium fashion, antusiasme para kolektor rupanya tidak setinggi ekspektasi sang pembuatnya.

Rumah lelang Drouot di Paris, yang menjadi saksi bisu peristiwa ini pada 11 Juni 2026, mengonfirmasi bahwa penawaran yang masuk jauh di bawah angka yang diharapkan. Karya yang memadukan teknologi bioteknologi tingkat tinggi dengan desain kontemporer ini awalnya diprediksi akan menjadi rebutan para miliarder. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Penawaran tertinggi bahkan tidak mampu menyentuh angka setengah dari estimasi terendah yang ditetapkan oleh para ahli.

Baca Juga

Misteri Bantal Basah: Mengapa Anda Ngiler Saat Tidur dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Misteri Bantal Basah: Mengapa Anda Ngiler Saat Tidur dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Kegagalan Ekspektasi di Balai Lelang Giquello

Rumah lelang Giquello, yang bertindak sebagai penyelenggara, sebelumnya telah mempromosikan tas ini dengan kampanye yang sangat masif. Mereka menargetkan angka penjualan fantastis, yakni lebih dari USD 500 ribu atau setara dengan Rp 8,9 miliar. Namun, ketika palu lelang hampir diketukkan, penawaran tertinggi yang masuk nyaris tidak mencapai USD 150.000 atau sekitar Rp 2,7 miliar. Perbedaan yang sangat mencolok ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan pengamat pasar barang mewah.

Alexandre Giquello menjelaskan bahwa menetapkan harga untuk objek semacam ini adalah tantangan yang luar biasa rumit. Mengingat tidak ada preseden atau barang serupa yang pernah dilelang sebelumnya, mereka harus mengandalkan kombinasi antara nilai investasi penelitian dan faktor kelangkaan material. Investasi yang dikucurkan untuk menghidupkan kembali jaringan sel dari hewan yang telah punah selama puluhan juta tahun tentu tidak murah, namun pasar tampaknya masih ragu untuk memberikan apresiasi setinggi itu.

Baca Juga

Resep Otentik Ayam Lodho Tulungagung: Perpaduan Sempurna Aroma Bakar dan Gurihnya Santan Pedas

Resep Otentik Ayam Lodho Tulungagung: Perpaduan Sempurna Aroma Bakar dan Gurihnya Santan Pedas

Sains di Balik Material ‘Kulit Naga’

Tas kulit T-Rex ini bukan sekadar aksesoris biasa; ia adalah manifestasi dari kemajuan paleontologi modern. Pertama kali diperkenalkan ke publik di Museum Art Zoo, Amsterdam, pada April 2026, material tas ini diklaim berasal dari jejak kolagen yang diekstrak dari tulang paha T-Rex. Fosil tersebut ditemukan di negara bagian Montana, Amerika Serikat, sekitar 25 tahun yang lalu.

Iacopo Briano, seorang ahli paleontologi yang terlibat langsung dalam proyek ambisius ini, menyatakan bahwa timnya telah berhasil mengembangkan teknik instruksi kultur sel yang memungkinkan mereka memproduksi jaringan yang secara struktural identik dengan kulit T-Rex asli di laboratorium. Ia menekankan bahwa ini bukanlah kulit vegan yang seringkali berbahan dasar plastik, melainkan 100 persen material organik yang berasal dari hewan yang telah punah 67 juta tahun silam.

Baca Juga

Menyingkap Masa Depan Travel 2026: 5 Tren Revolusioner dari Fenomena ‘Whycation’ hingga ‘Hushpitality’

Menyingkap Masa Depan Travel 2026: 5 Tren Revolusioner dari Fenomena ‘Whycation’ hingga ‘Hushpitality’

Proses kreatif ini digawangi oleh agensi kreatif VML, yang sebelumnya sukses menciptakan heboh global dengan proyek ‘Mammoth Meatball’ pada tahun 2023. Bekerja sama dengan The Organoid Company dan Lab-Grown Leather, mereka merekayasa kolagen dinosaurus yang direkonstruksi tanpa harus menyakiti satu pun hewan hidup saat ini. Para ilmuwan memulai proses dengan mengambil urutan kolagen fosil, lalu menggunakan cetak biru genetik yang tersisa untuk membentuk informasi kolagen yang lengkap.

Sentuhan Fashion Berlin: Estetika dan Inovasi

Setelah material kulit berhasil diproduksi di laboratorium, tantangan berikutnya adalah mengubahnya menjadi produk fashion yang layak pakai. Tugas ini jatuh ke tangan Enfin Levé, sebuah label pakaian teknologi yang berbasis di Berlin, Jerman. Didirikan oleh desainer Polandia, Michal Hadas, label ini dikenal karena keahliannya dalam mengolah kain teknis yang inovatif dan berkinerja tinggi.

Baca Juga

Rahasia Mengolah Daun Pakis yang Renyah dan Bergizi: Panduan Lengkap dari Dapur Tradisional ke Meja Makan Modern

Rahasia Mengolah Daun Pakis yang Renyah dan Bergizi: Panduan Lengkap dari Dapur Tradisional ke Meja Makan Modern

Produk akhir dari kolaborasi ini adalah sebuah tas dengan warna biru kehijauan (teal) yang sangat mencolok. Desainnya memiliki siluet ramping namun bersudut tajam, memberikan kesan futuristik sekaligus primitif. Salah satu detail yang paling menarik adalah adanya tiga sayatan dekoratif pada permukaan tas yang sengaja dibuat untuk menyerupai bekas cakaran dinosaurus. Meskipun secara visual sangat memukau, para kritikus fashion masih sulit mengategorikannya sebagai tas mewah tradisional karena kualitas jangka panjang dari material hasil laboratorium ini belum teruji oleh waktu.

Gelombang Skeptis dari Kalangan Akademisi

Meski diklaim sebagai terobosan besar, proyek ini tidak lepas dari kritik tajam para ilmuwan. Banyak ahli paleontologi yang meragukan apakah material tersebut benar-benar bisa disebut sebagai “kulit T-Rex”. Melanie During, seorang ahli paleontologi vertebrata dari Vrije Universiteit Amsterdam, menyatakan skeptisismenya kepada Reuters. Menurutnya, kolagen dalam tulang dinosaurus biasanya hanya bertahan sebagai fragmen kecil yang tidak cukup utuh untuk menciptakan kembali jaringan kulit secara sempurna.

Baca Juga

Rahasia Getuk Singkong Kukus Empuk dan Legit: Resep Tradisional yang Tak Lekang oleh Zaman

Rahasia Getuk Singkong Kukus Empuk dan Legit: Resep Tradisional yang Tak Lekang oleh Zaman

Nada serupa datang dari Jan Dekker, peneliti pascadoktoral dari Universitas Turin yang mendalami bidang paleoproteomik. Dekker menjelaskan bahwa secara ilmiah, batas waktu protein dapat bertahan dalam kondisi yang sangat luar biasa sekalipun hanya sekitar 20 juta tahun. Sementara itu, T-Rex telah punah lebih dari 66 juta tahun yang lalu. Perbedaan rentang waktu yang sangat jauh ini membuat banyak peneliti meragukan keaslian klaim bahwa tas tersebut mengandung material genetik dinosaurus yang murni.

Masa Depan Fashion Berbasis Bio-Rekayasa

Kegagalan lelang di Paris ini memberikan gambaran nyata bahwa pasar kolektor mungkin belum siap sepenuhnya menerima produk hasil rekayasa bioteknologi yang kontroversial. Ada garis tipis antara inovasi sains dan strategi pemasaran yang harus dipahami oleh para kreator. Meskipun tas ini gagal mencapai target harganya, keberadaannya telah membuka diskusi baru mengenai etika dan masa depan industri fashion berkelanjutan.

Apakah kita akan melihat lebih banyak produk serupa di masa depan? Mungkin saja. Namun, pelajaran dari peristiwa di Drouot ini adalah bahwa sebuah produk, secanggih apa pun teknologinya, tetap membutuhkan validasi ilmiah yang solid dan kepercayaan pasar untuk bisa dihargai dengan angka yang fantastis. Untuk saat ini, tas kulit T-Rex tetap menjadi artefak unik yang berada di persimpangan antara mimpi masa lalu dan ambisi teknologi masa depan, menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar diterima oleh dunia.

Bagi Anda yang tertarik mengikuti perkembangan dunia teknologi dan tren gaya hidup terkini, pastikan untuk terus memantau informasi terbaru hanya di MenitIni. Kami akan terus menghadirkan berita mendalam dengan sudut pandang yang berbeda untuk Anda.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *