Kisah di Balik Amarah Kolonel Sanders: Mengapa Sang Pendiri KFC Menyebut Saus Gravy Miliknya Sendiri Sebagai ‘Lem Kertas Dinding’?

Rendi Saputra | Menit Ini
02 Jun 2026, 20:52 WIB
Kisah di Balik Amarah Kolonel Sanders: Mengapa Sang Pendiri KFC Menyebut Saus Gravy Miliknya Sendiri Sebagai 'Lem Kertas

MenitIni — Dunia mengenal sosok pria tua berjanggut putih dengan setelan jas ikoniknya sebagai simbol kelezatan ayam goreng dunia. Namun, di balik senyum ramah yang terpampang di setiap gerai KFC, tersimpan sebuah narasi kekecewaan yang mendalam dari sang maestro sendiri, Kolonel Harland Sanders. Siapa sangka, di balik kesuksesan global merek restoran cepat saji ini, sang pendiri pernah melontarkan kritik pedas yang nyaris menghancurkan citra produknya sendiri.

Kisah ini bermula ketika Sanders tidak lagi memegang kendali penuh atas perusahaan yang ia bangun dari nol. Meskipun ia telah menjual bisnisnya kepada sekelompok investor pada tahun 1964, Sanders tetap menjadi wajah publik dan duta besar merek tersebut. Namun, kesetiaannya pada standar kualitas yang kaku seringkali membuatnya berbenturan dengan manajemen baru yang lebih mengutamakan efisiensi biaya dan skala industri.

Baca Juga

Aksi Nyeleneh Penumpang Pesawat: Dari Sembunyi di Bagasi Kabin Hingga ‘Dapur’ Dadakan di Ketinggian 30 Ribu Kaki

Aksi Nyeleneh Penumpang Pesawat: Dari Sembunyi di Bagasi Kabin Hingga ‘Dapur’ Dadakan di Ketinggian 30 Ribu Kaki

Saus Gravy: Mahakarya yang Berubah Menjadi ‘Lem Kertas Dinding’

Salah satu menu yang paling membuat sang Kolonel naik pitam adalah saus gravy. Bagi banyak pelanggan setia, saus kental ini adalah pelengkap sempurna untuk ayam goreng renyah. Namun bagi Sanders, saus tersebut adalah sebuah penghinaan terhadap seni kuliner dunia yang ia junjung tinggi.

Dalam sebuah wawancara blak-blakan tahun 1978 dengan Courier-Journal di Louisville, Kentucky, Sanders tidak menahan diri sedikitpun. Ia menggambarkan saus tersebut dengan kata-kata yang sangat kasar untuk ukuran seorang ikon perusahaan. “Ya Tuhan, saus gravy itu mengerikan,” serunya, sebagaimana tercatat dalam dokumen pengadilan yang dirilis oleh Justia. Ia bahkan tidak ragu membandingkan tekstur dan rasa saus tersebut dengan “lem kertas dinding” (wallpaper paste).

Baca Juga

Terobosan Baru atau Kontroversi? Paspor Amerika Serikat Edisi Khusus Bakal Tampilkan Wajah Donald Trump

Terobosan Baru atau Kontroversi? Paspor Amerika Serikat Edisi Khusus Bakal Tampilkan Wajah Donald Trump

Kritik Sanders bukan tanpa alasan teknis. Ia merasa resep aslinya yang menggunakan kaldu murni, susu, dan bumbu rahasia telah digantikan oleh campuran instan yang jauh dari kata bergizi. “Mereka membeli air keran dengan harga murah, lalu mencampurnya dengan tepung dan pati, hingga akhirnya menghasilkan pasta lem murni. Tidak ada nutrisi di dalamnya, dan mereka seharusnya tidak diizinkan untuk menjualnya,” tegas sang Kolonel dengan nada getir.

Konfrontasi Hukum dan Kesetiaan Pelanggan

Pernyataan pedas sang pendiri tentu saja memicu kegemparan. MenitIni mencatat bahwa kritik tersebut berbuntut panjang hingga ke ranah hukum. Sebuah waralaba KFC di Bowling Green, Kentucky, merasa dirugikan oleh komentar Sanders dan memutuskan untuk menggugat sang legenda beserta surat kabar yang memuat wawancara tersebut. Mereka menuduh Sanders telah melakukan pencemaran nama baik yang merugikan bisnis mereka secara langsung.

Baca Juga

Detail Elegan Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju: Sentuhan Vera Anggraini Persatukan Keluarga Maia Estianty dan Ahmad Dhani

Detail Elegan Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju: Sentuhan Vera Anggraini Persatukan Keluarga Maia Estianty dan Ahmad Dhani

Namun, drama hukum ini berakhir dengan kemenangan di pihak Sanders. Mahkamah Agung Kentucky menolak gugatan tersebut dengan alasan bahwa kritik Sanders ditujukan kepada kualitas manajemen perusahaan KFC secara umum, bukan spesifik pada gerai tertentu. Keputusan ini memperkuat posisi Sanders sebagai kritikus internal yang tak tergoyahkan, meski ia sendiri adalah bagian dari identitas visual perusahaan tersebut.

Menariknya, meskipun sang pencipta membenci versi modern dari sausnya, pasar berkata lain. Hingga hari ini, saus gravy KFC tetap menjadi salah satu item pendamping yang paling banyak dipesan. Di platform diskusi seperti Reddit, perdebatan mengenai hal ini masih terus bergulir. Sebagian penggemar setuju bahwa resep lama yang melibatkan kulit ayam goreng dan krim jauh lebih nikmat, sementara yang lain merasa versi saat ini adalah “makanan penghibur” (comfort food) yang praktis dan konsisten.

Baca Juga

Qantas Project Sunrise: Menembus Batas 22 Jam Penerbangan Nonstop Terpanjang di Dunia

Qantas Project Sunrise: Menembus Batas 22 Jam Penerbangan Nonstop Terpanjang di Dunia

Dinamika Bisnis KFC di Indonesia: Dari Kerugian Menuju Kebangkitan

Jika di Amerika Serikat sejarah KFC diwarnai dengan konflik idealisme sang pendiri, di Indonesia, dinamika merek ini lebih banyak tercermin dalam performa finansialnya di lantai bursa. PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), sebagai pemegang hak waralaba tunggal KFC di tanah air, sempat melewati masa-masa sulit sebelum akhirnya mencatatkan pemulihan yang signifikan.

Berdasarkan data yang dihimpun MenitIni, tahun 2025 merupakan periode yang cukup menantang bagi emiten berkode saham FAST ini. Perseroan sempat mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp 366,04 miliar. Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor eksternal dan internal yang memaksa perusahaan untuk melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk pengurangan jumlah gerai dari 690 menjadi 686 lokasi di seluruh Indonesia.

Baca Juga

Rahasia Sambal Ijo Padang Autentik: Tips Anti Langu dan Tetap Hijau Segar

Rahasia Sambal Ijo Padang Autentik: Tips Anti Langu dan Tetap Hijau Segar

Namun, memasuki kuartal pertama tahun 2026, angin segar mulai berhembus bagi investasi saham di sektor konsumsi ini. FAST berhasil membalikkan keadaan dengan mencetak laba tahun berjalan sebesar Rp 13,28 miliar hingga Maret 2026. Angka ini merupakan lompatan drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya di mana perusahaan masih merugi Rp 36,77 miliar.

Strategi Efisiensi dan Pertumbuhan Pendapatan

Kesuksesan KFC Indonesia dalam memulihkan performanya tidak lepas dari strategi manajemen yang agresif dalam mendongkrak pendapatan sekaligus menekan biaya operasional. Pendapatan perusahaan melonjak 18,59 persen secara tahunan (yoy), dari Rp 1,19 triliun menjadi Rp 1,42 triliun pada kuartal pertama 2026.

Meskipun beban pokok penjualan naik seiring dengan kenaikan harga bahan baku, perusahaan berhasil melakukan penghematan di sektor beban umum dan administrasi yang susut 15,4 persen menjadi Rp 141,32 miliar. Selain itu, pendapatan dari entitas asosiasi juga memberikan kontribusi positif yang signifikan bagi laba perusahaan.

Peningkatan aset yang kini mencapai Rp 5,19 triliun menunjukkan bahwa KFC Indonesia masih memiliki basis kekuatan yang solid untuk terus berekspansi di tengah persaingan bisnis makanan cepat saji yang kian sengit. Kepercayaan konsumen di Indonesia terhadap merek ini nampaknya tetap kokoh, terlepas dari sejarah kontroversial sang Kolonel di masa lalu.

Warisan Kolonel Sanders: Antara Kualitas dan Komersialisasi

Kisah kemarahan Kolonel Sanders terhadap saus gravy-nya sendiri memberikan pelajaran berharga bagi dunia bisnis modern. Ini adalah potret klasik tentang benturan antara idealisme seorang pengrajin (craftsman) dengan realitas industrialisasi massal. Bagi Sanders, ayam goreng dan pelengkapnya bukan sekadar komoditas, melainkan reputasi yang dibangun dengan keringat dan air mata.

Meskipun saat ini KFC telah menjadi raksasa yang mungkin jauh dari bayangan awal Sanders di dapur kecilnya di Corbin, Kentucky, semangat untuk menjaga standar tetap menjadi topik yang relevan. Keberhasilan PT Fast Food Indonesia Tbk dalam memperbaiki kinerja keuangan di tahun 2026 membuktikan bahwa adaptasi bisnis sangat diperlukan, namun menjaga rasa yang dicintai masyarakat adalah kunci keberlangsungan sebuah merek.

Bagi Anda para penikmat setia, mungkin lain kali saat Anda mencelupkan ayam ke dalam saus gravy, Anda akan teringat pada sosok sang Kolonel yang pernah menyebutnya sebagai ‘lem kertas’. Namun, selama rasanya masih memanjakan lidah, nampaknya kritik keras dari sang pendiri hanya akan menjadi bumbu sejarah yang memperkaya narasi besar perjalanan KFC di panggung bisnis internasional.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *