Bandara Dubai (DXB) Segera Tutup Selamanya: Al Maktoum Siap Menjelma Jadi Pusat Penerbangan Terbesar di Dunia

Rendi Saputra | Menit Ini
01 Jun 2026, 06:52 WIB
Bandara Dubai (DXB) Segera Tutup Selamanya: Al Maktoum Siap Menjelma Jadi Pusat Penerbangan Terbesar di Dunia

MenitIni — Dunia penerbangan internasional tengah bersiap menghadapi salah satu transisi paling bersejarah dalam satu dekade ke depan. Bandara Internasional Dubai (DXB), yang selama ini dikenal sebagai bandara tersibuk di dunia, dikabarkan akan mengakhiri masa operasionalnya secara permanen. Setelah menjadi saksi bisu perkembangan pesat Uni Emirat Arab selama lebih dari 85 tahun, DXB dijadwalkan akan menutup seluruh operasionalnya paling lambat pada tahun 2035 mendatang.

Keputusan besar ini bukanlah sebuah akhir yang menyedihkan, melainkan bagian dari lompatan kuantum Dubai untuk mengukuhkan posisinya sebagai raja logistik dan perjalanan udara global. Seluruh denyut nadi penerbangan yang selama ini berpusat di DXB akan dialihkan sepenuhnya ke Bandara Internasional Al Maktoum (DWC), yang saat ini tengah menjalani transformasi gila-gilaan untuk menjadi fasilitas penerbangan paling megah di kolong langit.

Baca Juga

Rahasia Sop Daging Sapi Empuk: Panduan Lengkap Teknik Hemat Gas dan Rahasia Bumbu Meresap

Rahasia Sop Daging Sapi Empuk: Panduan Lengkap Teknik Hemat Gas dan Rahasia Bumbu Meresap

Megaproyek Ambisius Berbiaya Rp 671,7 Triliun

Untuk mewujudkan mimpi menjadi pusat gravitasi dirgantara baru, Pemerintah Dubai tidak main-main dalam urusan pendanaan. Renovasi dan pengembangan total Bandara Internasional Al Maktoum diperkirakan menelan biaya fantastis mencapai 28 miliar pound sterling, atau setara dengan Rp 671,7 triliun. Angka ini mencerminkan ambisi Dubai untuk membangun sebuah ekosistem transportasi yang belum pernah ada sebelumnya.

Transisi ini tidak hanya sekadar memindahkan landasan pacu, tetapi juga memindahkan seluruh ekosistem maskapai raksasa seperti Emirates dan flydubai ke rumah baru mereka di Dubai World Central (DWC). Proyeksi masa depan menunjukkan bahwa setelah pengembangan ini rampung sepenuhnya, DWC akan memiliki kapasitas untuk melayani hingga 260 juta penumpang setiap tahunnya. Kapasitas masif ini akan secara otomatis menempatkan Al Maktoum sebagai bandara terbesar di dunia dari segi volume penumpang.

Baca Juga

5 Resep Mie Pedas Keju Kekinian: Perpaduan Gurih dan Pedas yang Menggugah Selera

5 Resep Mie Pedas Keju Kekinian: Perpaduan Gurih dan Pedas yang Menggugah Selera

Mengapa DXB Harus Menutup Pintu?

Banyak pihak bertanya-tanya, mengapa bandara sesukses DXB harus dipensiunkan? Jawabannya terletak pada keterbatasan fisik dan efisiensi operasional. CEO Dubai Airports, Paul Griffiths, dalam sebuah pernyataan resminya menjelaskan bahwa secara ekonomi, mempertahankan dua hub besar dalam jarak yang sangat berdekatan tidaklah efisien.

“Tidak masuk akal untuk mengoperasikan dua hub utama dengan jarak yang begitu dekat satu sama lain. Kami akan memindahkan setiap layanan ke DWC,” ungkap Griffiths. Ia juga menambahkan bahwa pada tahun 2035, sebagian besar aset infrastruktur di DXB akan mencapai akhir masa pakai operasionalnya. Melakukan renovasi besar-besaran di tengah keterbatasan lahan DXB dianggap sebagai investasi yang tidak menguntungkan secara strategis.

Baca Juga

Bali dalam Radar Bahaya? Korea Selatan Keluarkan Peringatan Serius bagi Wisatawan

Bali dalam Radar Bahaya? Korea Selatan Keluarkan Peringatan Serius bagi Wisatawan

Secara geografis, DXB terjepit di antara dua jalan raya utama dan kawasan padat penduduk yang berkembang pesat. Kondisi ini membuat perluasan fisik landasan pacu atau terminal menjadi misi yang mustahil. Sementara itu, DWC menawarkan lahan yang luas dan fleksibilitas untuk membangun infrastruktur masa depan, termasuk rencana pembangunan lima landasan pacu paralel dan hingga 400 gerbang pesawat (boarding gates).

Era Baru Sistem Bandara Pintar

Dubai Aviation Engineering Projects (DAEP) selaku otak di balik infrastruktur penerbangan Dubai, telah menyiapkan cetak biru yang visioner untuk DWC. Bandara ini tidak hanya akan mengandalkan skala fisik yang luas, tetapi juga integrasi teknologi mutakhir. Konsep ‘smart airport system’ akan menjadi inti dari pengalaman para pelancong.

Baca Juga

Rahasia Sirih Gading Tumbuh Rimbun dan Estetik: Panduan Lengkap Perawatan bagi Pemula

Rahasia Sirih Gading Tumbuh Rimbun dan Estetik: Panduan Lengkap Perawatan bagi Pemula

Fasilitas yang berpusat pada kenyamanan penumpang akan mencakup sistem keamanan biometrik tanpa hambatan, penanganan bagasi berbasis AI, serta konektivitas antar-terminal yang super cepat. Tujuannya jelas: membawa para pelancong menuju destinasi global dengan cara yang paling efisien, nyaman, dan menakjubkan secara visual. Inilah bentuk nyata dari supremasi udara yang sedang dibangun oleh Dubai.

Integrasi Etihad Rail: Revolusi Transportasi Darat

Kecanggihan Al Maktoum tidak berdiri sendiri. Bandara masa depan ini akan terhubung langsung dengan jaringan Etihad Rail, sebuah proyek kereta cepat nasional yang akan mengubah cara orang bermobilisasi di Uni Emirat Arab. Selama puluhan tahun, pergerakan antarkota di negara ini sangat bergantung pada kendaraan pribadi, namun kehadiran Etihad Rail akan mengakhiri dominasi tersebut.

Baca Juga

Rahasia Moist Chocolate Cake Anti Gagal Tanpa Oven & Mixer: Panduan Lengkap untuk Pemula

Rahasia Moist Chocolate Cake Anti Gagal Tanpa Oven & Mixer: Panduan Lengkap untuk Pemula

Jaringan kereta api sepanjang 900 kilometer ini akan menghubungkan 11 kota dan wilayah di tujuh emirat, mulai dari perbatasan Arab Saudi di Al Sila hingga pesisir timur di Fujairah. Kehadiran kereta cepat ini diharapkan mampu memangkas waktu tempuh secara signifikan. Sebagai contoh, perjalanan dari Abu Dhabi ke Dubai yang biasanya memakan waktu lama akibat kemacetan, nantinya hanya akan memakan waktu sekitar 57 menit saja.

Pengalaman Mewah di Atas Rel

Tidak hanya cepat, layanan penumpang Etihad Rail juga dirancang dengan standar kenyamanan yang tinggi. Kereta akan melaju dengan kecepatan hingga 200 km per jam menggunakan dua model gerbang buatan manufaktur ternama, yakni CRC dari Tiongkok dan CAF dari Spanyol. Kedua model ini menawarkan konfigurasi tiga kelas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan penumpang:

  • Kelas Ekonomi: Didesain untuk perjalanan efisien dengan kursi abu-abu gelap yang ergonomis.
  • Kelas Keluarga: Menawarkan ruang lebih luas dengan meja bersama yang besar, ideal untuk kelompok atau keluarga yang bepergian bersama.
  • Kelas Pertama: Memberikan kemewahan maksimal dengan kursi yang lebih lebar, fitur reclinable yang fleksibel, dan layanan premium selama perjalanan.

Dengan kapasitas angkut hingga 400 penumpang per kereta, proyek ini menargetkan mampu melayani 36,5 juta orang per tahun pada 2030. Integrasi antara bandara raksasa Al Maktoum dan Etihad Rail menciptakan sebuah ekosistem transportasi multimoda yang sangat kuat, memposisikan Dubai sebagai hub logistik global yang tak tertandingi.

Menatap Masa Depan: Transisi Menuju 2057

Meskipun DXB direncanakan tutup pada 2035, pengembangan penuh kawasan Dubai World Central diprediksi akan terus berlanjut hingga tahun 2057. Ini adalah visi jangka panjang yang sangat terukur. Dubai sedang membangun sebuah kota di dalam bandara, di mana setiap aspek kehidupan mulai dari bisnis, tempat tinggal, hingga pariwisata akan berputar di sekitar hub penerbangan terbesar ini.

Penutupan Bandara Internasional Dubai memang menandai berakhirnya sebuah era keemasan. Namun, bagi para pengamat industri dan pelancong dunia, ini adalah awal dari babak baru yang lebih spektakuler. Dengan investasi triliunan rupiah dan perencanaan yang matang, Dubai sekali lagi membuktikan bahwa mereka tidak pernah berhenti berlari mengejar masa depan.

Bagi Anda yang berencana mengunjungi Dubai dalam satu dekade mendatang, bersiaplah untuk merasakan sensasi mendarat di gerbang dunia yang benar-benar baru. Pariwisata Dubai dipastikan akan semakin berkilau dengan kehadiran fasilitas-fasilitas kelas dunia yang saling terintegrasi ini.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *