Dominasi Mutlak: Kendaraan Listrik Tiongkok Tembus Rekor 60 Persen, Era Mesin Bensin Segera Berakhir?

Dewi Amalia | Menit Ini
15 Mei 2026, 06:51 WIB
Dominasi Mutlak: Kendaraan Listrik Tiongkok Tembus Rekor 60 Persen, Era Mesin Bensin Segera Berakhir?

MenitIni — Lanskap otomotif global sedang menyaksikan pergeseran tektonik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di jantung industri otomotif dunia, Tiongkok, deru mesin pembakaran internal (ICE) yang telah mendominasi selama lebih dari seabad kini perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian motor listrik yang bertenaga. Berdasarkan data terbaru per April 2026, sebuah tonggak sejarah baru telah dipancangkan: tingkat penetrasi ritel kendaraan energi baru atau New Energy Vehicles (NEV) di pasar Tiongkok secara resmi melampaui angka psikologis 60 persen.

Era Baru di Jalanan Tiongkok: NEV Menjadi Arus Utama

Angka ini bukan sekadar statistik biasa. Pencapaian ini menandakan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, mayoritas konsumen di pasar mobil terbesar di dunia tersebut lebih memilih kendaraan bertenaga baterai atau hibrida dibandingkan mobil berbahan bakar fosil. Fenomena ini sekaligus mempertegas posisi Tiongkok sebagai pemimpin absolut dalam transisi menuju energi bersih di sektor transportasi.

Baca Juga

Update Jadwal dan Lokasi Samsat Keliling Jadetabek Rabu 8 April 2026: Solusi Praktis Bayar Pajak Kendaraan

Update Jadwal dan Lokasi Samsat Keliling Jadetabek Rabu 8 April 2026: Solusi Praktis Bayar Pajak Kendaraan

Laporan yang dirilis oleh platform otomotif terkemuka Dongchedi, serta didukung oleh data resmi dari Asosiasi Mobil Penumpang Tiongkok (CPCA), menunjukkan sebuah realitas yang pahit bagi para produsen mobil tradisional. Daftar sepuluh besar mobil penumpang terlaris kini hampir sepenuhnya dikuasai oleh armada listrik. Dominasi ini mencerminkan perubahan drastis dalam preferensi konsumen yang kini lebih memprioritaskan teknologi mutakhir, efisiensi energi, dan dukungan infrastruktur pengisian daya yang semakin masif di seluruh penjuru negeri.

Satu Lawan Sembilan: Kekalahan Telak Mesin Konvensional

Jika kita menilik daftar sepuluh besar model mobil terlaris di Tiongkok pada April 2026, gambaran dominasi tersebut terlihat sangat kontras. Dari sepuluh nama yang bertengger di puncak penjualan, sembilan di antaranya adalah kendaraan energi baru, yang mencakup mobil listrik murni (EV) maupun plug-in hybrid (PHEV). Hanya tersisa satu model bermesin pembakaran internal yang mampu bertahan di tengah kepungan teknologi modern tersebut.

Baca Juga

Gebrakan Mobil China di Pasar Otomotif Indonesia: Dari Persepsi Murah Menuju Standar Kemewahan Baru

Gebrakan Mobil China di Pasar Otomotif Indonesia: Dari Persepsi Murah Menuju Standar Kemewahan Baru

Satu-satunya “benteng” terakhir bagi mesin bensin adalah Geely Binyue, yang di pasar global lebih dikenal dengan nama Geely Coolray. Namun, keberadaannya di posisi kedelapan pun terasa genting. Penjualan Geely Coolray yang mencapai 14.923 unit terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan rekan satu mereknya yang bertenaga listrik, Geely Xingyuan. Perbandingan penjualannya mencapai 2,3 kali lipat, sebuah bukti nyata bahwa bahkan dalam satu payung korporasi yang sama, konsumen telah menjatuhkan pilihan pada teknologi otomotif masa depan.

Para Penguasa Baru: Dari Geely Hingga Xiaomi

Di puncak klasemen penjualan, Geely Xingyuan—atau yang juga dipasarkan sebagai Galaxy EX2—berhasil merebut mahkota sebagai mobil terlaris dengan catatan penjualan fantastis sebanyak 34.727 unit. Keberhasilan model ini membuktikan bahwa strategi elektrifikasi Geely telah membuahkan hasil yang sangat manis, menggabungkan desain futuristik dengan performa yang mumpuni.

Baca Juga

Sinergi Strategis Isuzu dan MODA: Menghadirkan Wajah Baru Logistik Modern Melalui GIGA FVM

Sinergi Strategis Isuzu dan MODA: Menghadirkan Wajah Baru Logistik Modern Melalui GIGA FVM

Namun, kejutan terbesar datang dari sektor teknologi. Xiaomi SU7, mobil listrik pertama dari raksasa teknologi Xiaomi, berhasil merangsek ke posisi kedua dengan pengiriman sebanyak 26.826 unit. Kehadiran Xiaomi di industri otomotif bukan lagi dianggap sebagai pemain baru yang mencoba peruntungan, melainkan sebagai ancaman serius bagi produsen otomotif mapan. Keberhasilan Xiaomi SU7 menunjukkan bahwa integrasi ekosistem digital ke dalam sebuah mobil listrik merupakan nilai jual yang sangat dicari oleh konsumen generasi baru.

Berikut adalah rincian daftar mobil terlaris di Tiongkok pada April 2026 yang menggambarkan peta persaingan saat ini:

  • Geely Xingyuan (Galaxy EX2): 34.727 unit
  • Xiaomi SU7: 26.826 unit
  • Tesla Model Y: 22.990 unit
  • Li Auto i6: 21.024 unit
  • Changan Qiyuan (Nevo) Q05: 15.814 unit
  • BYD Sealion 06 EV: 15.659 unit
  • BYD Yuan Up: 15.658 unit
  • Geely Coolray (ICE): 14.923 unit
  • Leapmotor A10: 14.372 unit
  • BYD Dolphin: 14.218 unit

Kejatuhan Tajam Segmen Mesin Bensin

Secara keseluruhan, kondisi pasar otomotif Tiongkok sebenarnya sedang mengalami kontraksi. Total penjualan ritel model penumpang pada April 2026 tercatat sebanyak 1,384 juta unit, mengalami penurunan sebesar 21,5 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Namun, penurunan ini tidak dirasakan secara merata di semua segmen. Segmen kendaraan energi baru (NEV) mencatatkan penjualan sebanyak 849.000 unit, yang meskipun turun 6,8 persen, masih jauh lebih stabil dibandingkan segmen lainnya.

Baca Juga

TVS Armado 200 Resmi Meluncur, Solusi Tangguh untuk UMKM dan Logistik dengan Harga Kompetitif

TVS Armado 200 Resmi Meluncur, Solusi Tangguh untuk UMKM dan Logistik dengan Harga Kompetitif

Nasib tragis justru menimpa kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE). Penjualan mobil bensin anjlok secara dramatis sebesar 37 persen dibandingkan tahun lalu, dengan hanya 530.000 unit yang terjual. Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya saja, penurunannya mencapai 33 persen. Angka-angka ini menunjukkan sebuah fenomena yang disebut oleh para pengamat sebagai “spiral kematian” bagi mesin bensin. Dengan penurunan volume yang begitu tajam, efisiensi produksi bagi pabrikan mobil konvensional menjadi terganggu, yang pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga atau penghentian model secara permanen.

Faktor Pendorong Revolusi Hijau Tiongkok

Melejitnya penetrasi kendaraan listrik hingga melampaui 60 persen tidak terjadi secara kebetulan. Ada kombinasi kuat antara kebijakan pemerintah yang progresif dan inovasi sektor swasta yang sangat agresif. Pemerintah Tiongkok telah lama memberikan insentif pajak, subsidi pembelian, hingga kemudahan mendapatkan plat nomor di kota-kota besar bagi pemilik mobil listrik.

Baca Juga

INKVERSE 2026: Kolaborasi Epik Seni Tubuh dan Kultur Otomotif Premium di Jantung Jakarta

Di sisi lain, produsen seperti BYD, Geely, dan pendatang baru seperti Xiaomi telah berhasil menurunkan biaya produksi baterai, yang merupakan komponen termahal dari sebuah kendaraan listrik. Hal ini membuat harga jual NEV kini semakin kompetitif, bahkan seringkali lebih murah dibandingkan mobil bensin di kelas yang sama. Selain itu, pengembangan infrastruktur pengisian daya super cepat (ultra-fast charging) telah meminimalisir kekhawatiran konsumen akan jarak tempuh (range anxiety).

Dampak Global dan Masa Depan Industri

Apa yang terjadi di Tiongkok saat ini merupakan cermin masa depan bagi pasar otomotif global. Tiongkok bukan hanya pasar terbesar, tetapi juga laboratorium hidup bagi pasar otomotif Tiongkok yang terus bertransformasi. Perusahaan-perusahaan global seperti Volkswagen, Toyota, dan General Motors kini dipaksa untuk mempercepat strategi elektrifikasi mereka jika tidak ingin kehilangan relevansi di pasar paling penting tersebut.

Dominasi model-model lokal Tiongkok dalam daftar terlaris juga menunjukkan pergeseran kekuatan merek. Nama-nama seperti BYD, Li Auto, dan Leapmotor kini dipandang setara atau bahkan lebih bergengsi daripada merek-merek asing tradisional karena keunggulan teknologi perangkat lunak dan sistem kemudi otonom yang mereka tawarkan. Dengan pencapaian penetrasi 60 persen ini, pertanyaan bagi industri bukan lagi tentang “apakah” kendaraan listrik akan mendominasi, melainkan “seberapa cepat” sisa 40 persen pasar mesin bensin akan benar-benar lenyap.

Kesimpulannya, April 2026 akan diingat sebagai momen ketika mesin piston kehilangan takhtanya secara permanen di Tiongkok. Revolusi ini terus bergerak maju, meninggalkan jejak karbon yang semakin mengecil dan membuka jalan bagi era transportasi yang sepenuhnya terbebas dari emisi gas buang. Bagi konsumen, pilihannya kini semakin jelas: beradaptasi dengan teknologi masa depan atau tertinggal dalam sejarah otomotif masa lalu yang berisik.

Dewi Amalia

Dewi Amalia

Penulis spesialis gaya hidup dan kesehatan. Dewi memiliki minat besar pada isu mental health dan tren diet berkelanjutan.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *