Kebangkitan Narasi Nusantara di Venice Biennale 2026: Menelusuri Jejak Pelayaran Imajinatif ‘Printing the Unprinted’

Rendi Saputra | Menit Ini
10 Mei 2026, 08:51 WIB
Kebangkitan Narasi Nusantara di Venice Biennale 2026: Menelusuri Jejak Pelayaran Imajinatif 'Printing the Unprinted'

MenitIni — Panggung seni rupa dunia kembali bersiap menyambut kehadiran talenta terbaik nusantara dalam perhelatan prestisius Venice Biennale 2026. Setelah enam tahun menanti dalam kerinduan kreatif, Indonesia akhirnya memastikan diri untuk kembali mengirimkan delegasi senimannya ke ajang internasional tersebut. Kali ini, Paviliun Indonesia mengusung sebuah proyek ambisius bertajuk “Printing the Unprinted”, sebuah eksplorasi artistik yang menggabungkan sejarah, mitologi, dan imajinasi kolektif tentang pelayaran agung abad ke-15.

Di bawah kurasi tangan dingin Aminuddin TH Siregar, tujuh perupa lintas generasi berkolaborasi untuk menghidupkan kembali narasi yang selama ini mungkin hanya tersimpan dalam relung fantasi sejarah. Bertempat di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia, pameran ini tidak sekadar memajang karya, tetapi menciptakan sebuah semesta di mana pengunjung diajak menelusuri lorong waktu melalui medium seni grafis yang mendalam dan bertekstur.

Baca Juga

Fenomena Super Shoppers: Rahasia Kaum VVIC yang Rela Habiskan Rp 3 Miliar Setahun Demi Gengsi Fesyen

Fenomena Super Shoppers: Rahasia Kaum VVIC yang Rela Habiskan Rp 3 Miliar Setahun Demi Gengsi Fesyen

Manifesto Pelayaran Agung dari Tanah Batak ke Jantung Eropa

Narasi utama yang diusung dalam Paviliun Indonesia ini berpusat pada kisah pelayaran luar biasa selama 14 tahun, yang membentang dari tahun 1472 hingga 1486. Bayangkan sebuah armada yang terdiri dari tiga kapal legendaris: Siboru Deak Parujar (sang Dewi Pencipta Batak) sebagai kapal induk, Naga Padoha (sang Ular Kosmik) yang bertindak sebagai pengawal tangguh, dan Sahala ni Ombak (Roh Ombak) yang menjadi wahana penjelajahan ilmiah.

Ketujuh seniman yang terlibat—Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin—bekerja sama membangun sebuah dunia yang dipandu oleh sosok fiktif bernama Datu Na Tolu Hamonangan. Ia digambarkan sebagai seorang arsiparis imajiner dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra yang mendokumentasikan setiap jengkal perjalanan tersebut dalam manuskrip berjudul Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage.

Baca Juga

Rahasia Tempe Orek Manis Kering yang Tetap Renyah Berhari-hari: Panduan Lengkap Lauk Stok Andalan Keluarga

Rahasia Tempe Orek Manis Kering yang Tetap Renyah Berhari-hari: Panduan Lengkap Lauk Stok Andalan Keluarga

Manuskrip ini bukanlah sekadar teks biasa. Di dalamnya tersimpan 21 etsa yang terbagi ke dalam delapan babak naratif yang kaya. Setiap goresan pada tembaga dan kertas etsa tersebut merupakan saksi bisu bagaimana armada ini menyusuri pesisir Sumatra Barat, membelah Selat Malaka, melintasi Teluk Benggala, hingga akhirnya merapat di dermaga Venesia dan menyentuh tanah Eropa Tengah.

Delapan Babak Keajaiban: Dari Sumpah Raja Hingga Renungan Spiritual

Alur cerita dalam pameran di Venice Biennale ini dimulai dengan tema “Sacred Authority and Diplomacy”. Di sini, Agus Suwage menghidupkan sosok Raja Uti Marbun Pusuk yang memiliki visi melampaui cakrawala. Melalui tiga lembar etsa, Suwage menggambarkan sumpah sang raja di hadapan batu megalitik Pusuk Buhit untuk membuktikan keberadaan dunia di balik laut, yang ia sebut sebagai Banua Tonga.

Baca Juga

Rahasia Wajah Flawless Seharian: Rekomendasi Bedak Tabur Terbaik untuk Hasil Makeup Anti-Geser

Rahasia Wajah Flawless Seharian: Rekomendasi Bedak Tabur Terbaik untuk Hasil Makeup Anti-Geser

Selanjutnya, narasi berpindah pada kekuatan laut dan navigasi melalui karya R.E. Hartanto. Sang kurator menunjuk Hartanto untuk memvisualisasikan ketangguhan Laksamana Mangaraja Laut Mangiring. Dalam karyanya, kita bisa melihat bagaimana sang laksamana mempelajari peta-peta Arab dan rute bintang sebelum akhirnya menua di tengah badai dahsyat di Selat Hormuz. Ini adalah sebuah pengingat bahwa laut bukanlah pemisah, melainkan jembatan yang menghubungkan keberagaman dunia.

Perspektif unik juga dihadirkan oleh Syahrizal Pahlevi dalam babak “Maps and Astronomy”. Ia menantang hegemoni kartografi barat dengan menempatkan Danau Toba dan masyarakat Batak sebagai pusat peta dunia, sementara Eropa digambarkan sebagai semenanjung kecil di tepi dunia yang tak berbatas. Inversi peta dunia ini menjadi sebuah pernyataan politis sekaligus estetis tentang bagaimana kita memandang diri sendiri di tengah konstelasi global.

Baca Juga

Liburan Soobin TXT di Cebu Diwarnai Insiden ‘Getok Harga’, Pemerintah Filipina Langsung Turun Tangan

Liburan Soobin TXT di Cebu Diwarnai Insiden ‘Getok Harga’, Pemerintah Filipina Langsung Turun Tangan

Pertukaran Budaya dan Penemuan yang Tak Terduga

Dalam perjalanan ini, dimensi alam juga tidak luput dari perhatian. Rusyan Yasin melalui tema “Flora and Fauna” mendokumentasikan pertemuan sang naturalis dengan spesies yang asing. Menariknya, narasi ini menceritakan upaya membawa bibit anggur dari pegunungan Alpen ke tanah khatulistiwa. Meski anggur sulit tumbuh di bawah terik matahari, buah apel justru berhasil beradaptasi di dataran tinggi Batak, menciptakan perkebunan baru yang mengubah lanskap budaya lokal.

Sisi kemanusiaan dan interaksi sosial digarap dengan apik oleh Mariam Sofrina. Ia melukiskan wajah-wajah dan budaya yang saling bersinggungan di Pelabuhan Malaka dan pasar musim dingin Venesia. Ada momen puitis di mana kain ulos bersentuhan dengan tangan orang Eropa, dan pelaut Batak untuk pertama kalinya mencicipi roti gandum dan keju, sementara anak-anak Venesia menatap kagum pada tato tradisional di lengan para pengarung samudra.

Baca Juga

Langit Thailand Meredup: Mengapa Thai Airways Terpaksa Memangkas Puluhan Jadwal di Mei 2026?

Langit Thailand Meredup: Mengapa Thai Airways Terpaksa Memangkas Puluhan Jadwal di Mei 2026?

Tak hanya itu, Nurdian Ichsan mengeksplorasi aspek teknologi dan simbolisme. Ia menceritakan bagaimana perajin Batak yang terampil mulai mempelajari teknologi kaca patri dan jam mekanis dari Eropa. Hasilnya adalah sebuah hibriditas simbolis: sebuah segel kerajaan yang memadukan motif gorga Batak dengan lambang heraldik Eropa. Sebuah bukti nyata bahwa inovasi lahir dari persilangan gagasan.

Kedalaman Spiritual di Balik Goresan Etsa

Sebagai penutup dari rangkaian narasi ini, Theresia Agustina Sitompul membawa pengunjung masuk ke dalam perenungan spiritual yang mendalam. Ia menggambarkan bagaimana seorang filsuf Batak mendengarkan paduan suara di dalam Katedral Venesia dan menemukan kesamaan harmoninya dengan tabuhan gondang sabangunan dari kampung halamannya.

Kesimpulan dari seluruh perjalanan ini dirangkum dalam satu kalimat yang sangat kuat: “Penemuan bukanlah kepemilikan, melainkan pengakuan bahwa seluruh daratan terjalin dalam satu dunia.” Melalui karya Theresia, Paviliun Indonesia ingin menegaskan bahwa di balik kemajuan teknologi dan eksplorasi fisik, ada dimensi batiniah yang menyatukan umat manusia dalam kesunyian dan doa.

Metode Residensi: Memadukan Konteks Lokal dan Global

Salah satu hal yang membuat partisipasi Indonesia di tahun 2026 ini begitu istimewa adalah penggunaan pendekatan residensi bagi para senimannya. Seluruh karya etsa yang dipamerkan tidak hanya dikerjakan di studio masing-masing di Indonesia, tetapi juga disempurnakan langsung di Venesia. Proses kreatif ini memungkinkan para perupa untuk merespons ruang secara langsung di Scuola Internazionale di Grafica.

Para seniman juga menciptakan karya individual yang tetap bersumber pada jiwa manuskrip imajiner tersebut. Hal ini menciptakan dialog yang dinamis antara interpretasi teks fiksi dengan pengalaman nyata mereka saat berada di kota kanal tersebut. Seniman Indonesia kini tidak lagi hanya menjadi objek pengamatan, tetapi subjek aktif yang mengonstruksi sejarah tandingan di pusat kebudayaan dunia.

Proyek “Printing the Unprinted” adalah sebuah pernyataan tegas bahwa kebudayaan Indonesia bukanlah warisan statis yang hanya layak dipajang di museum. Ia adalah fondasi masa depan yang terus bergerak, berlayar, dan berdialog dengan peradaban lain. Dengan memadukan mitologi, arsip, dan imajinasi, Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 mengajak dunia untuk melihat nusantara sebagai episentrum gagasan yang tak pernah berhenti berkontribusi bagi narasi kemanusiaan global.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *