Prahara di Balik Mansion Mewah: Kylie Jenner Digugat Dua Mantan ART Atas Dugaan Diskriminasi dan Upah Tak Dibayar

Rendi Saputra | Menit Ini
02 Mei 2026, 10:51 WIB
Prahara di Balik Mansion Mewah: Kylie Jenner Digugat Dua Mantan ART Atas Dugaan Diskriminasi dan Upah Tak Dibayar

MenitIni — Gemerlap kehidupan sang miliarder muda, Kylie Jenner, kini tengah dibayangi oleh awan mendung persoalan hukum yang serius. Di balik kemegahan rumah mewahnya dan kesuksesan kerajaan bisnis kosmetik, sebuah narasi kelam muncul dari mereka yang selama ini menjaga privasi sang bintang. Belum genap satu bulan, dua mantan Asisten Rumah Tangga (ART) secara bergantian melayangkan gugatan hukum terhadap pendiri Kylie Cosmetics tersebut, menuduh adanya praktik diskriminasi rasial yang sistematis dan kegagalan dalam memenuhi hak-hak dasar pekerja.

Misteri di Balik Pagar Mansion Hidden Hills

Laporan terbaru yang mengguncang publik datang dari Juana Delgado Soto. Melalui dokumen pengadilan yang diajukan di Los Angeles, Soto tidak hanya menyeret nama Kylie Jenner sebagai pribadi, tetapi juga melibatkan entitas bisnisnya, Kylie Jenner Inc., serta perusahaan penyalur tenaga kerja profesional seperti Tri Star Services dan La Maison Family Services. Gugatan ini menjadi tamparan keras bagi citra publik Jenner yang selama ini dikenal sebagai ikon keberhasilan generasi muda.

Baca Juga

Aksi Nekat Dua Turis Asing Mencuri di Bandara Changi: Dari Parfum Mewah Hingga Ancaman Penjara

Aksi Nekat Dua Turis Asing Mencuri di Bandara Changi: Dari Parfum Mewah Hingga Ancaman Penjara

Dalam berkas perkara yang diperoleh oleh tim investigasi hukum, Soto merinci serangkaian perlakuan buruk yang ia alami selama bertahun-tahun. Tuduhan yang dialamatkan meliputi diskriminasi rasial, pelecehan di lingkungan kerja, hingga kegagalan manajemen dalam mencegah terjadinya penindasan di antara staf. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai bagaimana budaya kerja yang sebenarnya diterapkan di kediaman salah satu keluarga paling berpengaruh di dunia tersebut.

Kesaksian Memilukan Juana Delgado Soto: Bertahan di Tengah Tekanan

Perjalanan kerja Soto bersama keluarga Jenner dimulai pada tahun 2019. Pada awalnya, segalanya tampak normal, namun situasi dikabarkan berubah drastis sejak tahun 2023 ketika seorang pengawas staf bernama Itzel Sibrian memegang kendali. Soto mengklaim bahwa hak-hak dasarnya sebagai pekerja, termasuk waktu istirahat makan dan istirahat harian yang dijamin undang-undang ketenagakerjaan California, sering kali diabaikan atau bahkan ditiadakan sama sekali.

Baca Juga

Rahasia Telur Dadar Tebal ala Rumah Makan Padang: Gurih Mengembang Tanpa Baking Powder

Rahasia Telur Dadar Tebal ala Rumah Makan Padang: Gurih Mengembang Tanpa Baking Powder

Lebih menyakitkan lagi, Soto menuduh Sibrian secara rutin melakukan pelecehan verbal. Dalam laporannya kepada departemen sumber daya manusia (HRD) pada tahun 2024, ia menyebutkan bahwa sang pengawas sering mengejek aksen bicaranya, mempertanyakan status imigrasinya, hingga melontarkan hinaan yang merendahkan kecerdasannya berdasarkan latar belakang ras. Ironisnya, meski Sibrian sempat diberhentikan sementara akibat laporan tersebut, ia kembali dipekerjakan, yang kemudian memicu aksi balas dendam terhadap Soto melalui pengurangan jam kerja dan beban tugas yang tidak masuk akal.

Paradoks Kemewahan: Larangan Minum ‘Air Kylie’ dan Larangan Tersenyum

Salah satu poin yang paling mengejutkan dalam gugatan ini adalah detail mengenai aturan internal yang dianggap tidak manusiawi. Soto mengungkapkan bahwa dirinya dilarang meminum air mineral yang disediakan di rumah tersebut, yang oleh para staf dijuluki sebagai ‘Air Kylie’. Tak hanya itu, aksesnya terhadap fasilitas mendasar seperti kamar mandi pun sangat dibatasi, memaksa dirinya bekerja dalam kondisi fisik yang sangat tertekan.

Baca Juga

Gaya Ekspresif Putri Charlotte di Usia 11 Tahun: Sorotan Cat Kuku Biru dan Transformasi Menuju Kedewasaan

Gaya Ekspresif Putri Charlotte di Usia 11 Tahun: Sorotan Cat Kuku Biru dan Transformasi Menuju Kedewasaan

Kekejaman mental yang dialami Soto mencapai titik nadir ketika ia dilarang mengambil cuti untuk berduka atas kematian saudara laki-lakinya. Di saat ia sedang hancur karena kehilangan keluarga, rekan-rekan kerjanya di bawah arahan supervisor diduga berbisik-bisik menuduhnya berbohong tentang kematian tersebut. Bahkan, dalam situasi duka, ia dipaksa untuk memunguti sampah yang sengaja dibuang oleh staf lain ke lantai hanya untuk mempermalukannya.

Surat Terakhir di Meja Pijat: Upaya Putus Asa Menghubungi Sang Bos

Pada April 2025, dalam kondisi mental yang sudah sangat rapuh, Soto mencoba berkomunikasi langsung dengan Kylie Jenner. Mengetahui betapa sulitnya menjangkau sang majikan di luar urusan profesional yang kaku, Soto memutuskan untuk meninggalkan sebuah surat panjang di atas meja pijat pribadi Jenner, tepat sebelum jadwal sesi pijat sang bintang dimulai.

Baca Juga

Cara Membuat Roti Kukus 3 Bahan yang Super Lembut dan Anti Gagal, Rahasianya Cuma Pakai Es Krim!

Cara Membuat Roti Kukus 3 Bahan yang Super Lembut dan Anti Gagal, Rahasianya Cuma Pakai Es Krim!

Dalam surat tersebut, Soto menuliskan permohonan maaf karena harus mengganggu ketenangan Jenner, namun ia merasa harus mengungkapkan penderitaan mental yang ia alami. Ia sempat menaruh harapan bahwa Jenner tidak mengetahui perlakuan buruk yang dilakukan oleh para staf kepercayaannya. Namun, harapan itu pupus seketika. Alih-alih mendapatkan perlindungan atau mediasi, keesokan harinya Soto justru diancam akan dipecat. Ia diperintahkan untuk ‘menghilang’ setiap kali Jenner lewat dan dilarang keras untuk sekadar melempar senyum atau melakukan kontak mata dengan sang majikan.

Bukan Kasus Pertama: Pola Perilaku di Lingkungan Kerja Jenner?

Keberanian Soto untuk bersuara nampaknya dipicu oleh langkah hukum serupa yang diambil oleh rekan seprofesinya, Angelica Vazquez. Hanya selisih beberapa minggu sebelum gugatan Soto masuk, Vazquez telah lebih dulu mendaftarkan tuntutannya terhadap Kylie Jenner dan agensi penyalur staf yang sama. Vazquez mendeskripsikan lingkungan kerja di rumah Jenner sebagai tempat yang penuh dengan ‘permusuhan dan pengucilan’.

Baca Juga

Efek Domino Konser BTS di Goyang: Strategi Cerdas Korea Selatan Sulap Tur Dunia Jadi Magnet Wisata

Efek Domino Konser BTS di Goyang: Strategi Cerdas Korea Selatan Sulap Tur Dunia Jadi Magnet Wisata

Fakta bahwa kedua penggugat diwakili oleh pengacara yang sama, Della Shaker, menunjukkan adanya kemungkinan pola sistematis dalam manajemen rumah tangga Jenner. Meskipun dalam gugatan Vazquez tidak ada tuntutan langsung yang menyasar pribadi Jenner secara teknis hukum, keberadaan dua tuntutan dalam waktu yang sangat berdekatan memberikan sinyal bahwa ada masalah serius dalam tata kelola sumber daya manusia di lingkaran terdalam klan Kardashian-Jenner.

Dampak Terhadap Reputasi dan Respon Pihak Manajemen

Hingga berita ini diturunkan, perwakilan resmi dari Kylie Jenner maupun juru bicara dari keluarga besar The Kardashians masih memilih untuk bungkam. Saat dikonfirmasi oleh awak media internasional, pihak Jenner hanya menyatakan bahwa mereka belum melihat berkas gugatan tersebut secara utuh dan menolak memberikan komentar lebih lanjut terkait detail tuduhan yang diajukan oleh Soto dan Vazquez.

Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi yang melibatkan Jenner, mulai dari tuduhan penggunaan hewan sebagai aksesori hingga kritik atas gaya hidup mewahnya yang dianggap tidak peka terhadap isu sosial. Namun, gugatan ketenagakerjaan ini memiliki bobot yang berbeda karena berkaitan dengan hukum formal di Amerika Serikat. Jika terbukti benar, Jenner tidak hanya menghadapi kerugian finansial dari tuntutan upah yang tak dibayar, tetapi juga kerusakan reputasi yang signifikan di mata para penggemarnya yang sebagian besar adalah kaum muda progresif.

Menanti Keadilan di Meja Hijau

Kasus ini kini menjadi sorotan para aktivis hak pekerja di California. Banyak pihak yang menilai bahwa kasus ini merupakan puncak gunung es dari fenomena eksploitasi pekerja domestik di kalangan selebriti papan atas. Mereka yang bekerja di balik layar sering kali tidak memiliki kekuatan untuk bersuara karena terikat oleh perjanjian kerahasiaan (NDA) yang sangat ketat.

Juana Delgado Soto, melalui pengunduran dirinya yang emosional pada Agustus 2025, menyatakan bahwa dirinya sudah tidak sanggup lagi menanggung kecemasan kronis dan gangguan tidur akibat perlakuan yang ia terima. Kini, publik menunggu apakah keadilan akan berpihak pada para pekerja yang merasa terabaikan ini, ataukah kekuatan finansial sang bintang akan mampu meredam prahara di balik dinding mansion mewahnya. MenitIni akan terus memantau perkembangan kasus hukum ini seiring dengan berjalannya proses di pengadilan Los Angeles.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *