Situs Warisan Dunia Gunung Fuji Terancam Korosi, Ribuan Koin Wisatawan Cemari Mata Air Oshino Hakkai

Rendi Saputra | Menit Ini
13 Apr 2026, 07:29 WIB
Situs Warisan Dunia Gunung Fuji Terancam Korosi, Ribuan Koin Wisatawan Cemari Mata Air Oshino Hakkai

MenitIni — Keindahan murni Oshino Hakkai, kompleks delapan mata air legendaris yang berada di kaki Gunung Fuji, kini tengah dibayangi ancaman kerusakan lingkungan yang serius. Ribuan koin yang dilemparkan oleh para pelancong demi ritual “keberuntungan” justru menjadi bumerang bagi kelestarian air di situs yang telah diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO tersebut.

Tradisi Salah Kaprah yang Merusak Ekosistem

Sejak ditetapkan sebagai bagian dari Situs Warisan Dunia pada tahun 2013, popularitas Oshino Hakkai melonjak drastis. Namun, popularitas ini membawa dampak negatif yang tidak terduga. Banyak wisatawan yang datang dengan keyakinan keliru bahwa melemparkan koin ke dalam kolam akan membawa berkah atau mewujudkan keinginan mereka, mirip dengan tradisi di beberapa monumen Eropa.

Padahal, praktik ini secara perlahan merusak kualitas air dan estetika alamiah kolam-kolam tersebut. Hingga saat ini, diperkirakan lebih dari 50.000 koin telah ditemukan menumpuk di dasar kolam, mengubah pemandangan alami yang semula jernih menjadi hamparan logam yang berkilauan namun berbahaya.

Wakuike: Dari Kejernihan Kristal Menuju Ancaman Logam

Dampak paling nyata terlihat di Kolam Wakuike, yang dikenal sebagai kolam paling ikonik karena kejernihannya yang luar biasa. Di sini, pengunjung biasanya dapat melihat dasar kolam hingga kedalaman empat meter dengan mata telanjang. Namun, alih-alih formasi bebatuan alami, kini yang terlihat adalah tumpukan koin perak dan tembaga dari berbagai mata uang mancanegara.

Para ahli di Prefektur Yamanashi mulai mengkhawatirkan risiko korosi logam. Meskipun uji laboratorium saat ini belum menunjukkan anomali drastis pada air, pelepasan partikel logam dari koin-koin yang mulai berkarat dikhawatirkan akan merusak ekosistem unik yang dialiri langsung oleh air bawah tanah dari Gunung Fuji tersebut.

Belajar dari Kasus Global: Bukan Air Mancur Trevi

Pihak berwenang setempat menduga bahwa fenomena ini merupakan bentuk imitasi dari tradisi di Air Mancur Trevi, Roma. Namun, ada perbedaan mendasar yang harus dipahami: Oshino Hakkai adalah mata air alami yang sakral, bukan kolam buatan manusia. Seorang pelancong asal Amerika Serikat bahkan mengungkapkan keprihatinannya, menyebut praktik tersebut sangat disayangkan jika dilakukan di lingkungan alam yang murni.

Guna menanggulangi masalah ini, Desa Oshino telah mengambil berbagai langkah preventif, di antaranya:

  • Pemasangan papan peringatan dalam berbagai bahasa termasuk Jepang, Inggris, Mandarin, dan Korea.
  • Pembersihan berkala menggunakan penyelam sukarelawan untuk mengangkut puluhan ribu koin yang mengendap.
  • Rencana pemasangan kotak persembahan resmi sebagai lokasi alternatif bagi pengunjung yang ingin berdonasi tanpa mencemari alam.

Langkah Konservasi dan Edukasi Wisatawan

Sebagai solusi jangka panjang, otoritas setempat berencana mengintegrasikan sistem donasi pajak furusato nozei untuk mendanai upaya pelestarian lingkungan. Uang yang terkumpul nantinya akan dialokasikan sebagai dana konservasi untuk menjaga kebersihan mata air dan mengedukasi wisatawan mancanegara mengenai pentingnya etika berwisata di situs alam.

Oshino Hakkai adalah simbol keagungan alam Jepang yang harus dijaga kemurniannya. Menjaga ekosistem ini bukan hanya tugas pengelola, melainkan tanggung jawab moral setiap individu yang datang untuk mengagumi keajaiban di kaki gunung suci tersebut.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *