Rahasia Dapur Sang Teknokrat: Kisah Satiyah, Penjaga Cita Rasa Keluarga BJ Habibie Selama 4 Dekade

Rendi Saputra | Menit Ini
11 Apr 2026, 11:22 WIB
Rahasia Dapur Sang Teknokrat: Kisah Satiyah, Penjaga Cita Rasa Keluarga BJ Habibie Selama 4 Dekade

MenitIni — Dalam lembaran sejarah bangsa, kita mengenal sosok Sarinah yang begitu melegenda bagi keluarga Bung Karno. Namun, di balik dinding kediaman sang teknokrat jenius, BJ Habibie, ada sosok perempuan bersahaja bernama Satiyah yang memiliki peran tak kalah sentral. Sejak tahun 1987, perempuan asal Cilacap ini bukan sekadar pengelola dapur, melainkan saksi bisu perjalanan cinta dan tradisi kuliner keluarga Presiden ke-3 RI tersebut.

Perjalanan Satiyah dimulai saat ia masih sangat muda, tepatnya pada tahun 1987. Awalnya, ia mengaku sempat enggan saat ditawari bekerja di rumah Habibie karena merasa usianya masih terlalu kecil dan masih ingin bermain di kampung halaman. Namun, takdir membawanya ke Jakarta, ke tengah keluarga yang kelak ia anggap sebagai napas kehidupannya sendiri.

Sentuhan Tangan Dingin Ibu Ainun

Satiyah mengenang bahwa kemampuannya mengolah hidangan lezat tak lepas dari bimbingan langsung Sang Nyonya Rumah, Hasri Ainun Habibie. Salah satu menu wajib yang hampir selalu menghiasi meja makan adalah sayur lodeh. Uniknya, lodeh ala keluarga Habibie memiliki modifikasi khusus yang sehat.

“Pak Habibie tidak suka santan, beliau sangat peduli pada makanan sehat. Jadi, resep aslinya menggunakan susu dan krimer sebagai pengganti santan,” ungkap Satiyah saat ditemui di sela-sela tur Habibie Legacy Experience di Jakarta beberapa waktu lalu. Meski resep dasarnya berasal dari Ibu Ainun, Satiyah diberi kebebasan untuk mengembangkan cita rasa yang lebih kaya tanpa menghilangkan pakem kesehatan yang diminta Sang Bapak Teknologi.

Harmoni Dua Selera dalam Satu Meja

Menjadi juru masak keluarga kepresidenan menuntut ketelitian tinggi, terutama dalam memahami preferensi lidah yang berbeda. Pak Habibie cenderung menyukai rasa yang gurih dan asin, sementara Ibu Ainun lebih condong ke arah manis. Perbedaan ini disiasati Satiyah dengan selalu menghidangkan dua jenis sambal yang berbeda setiap harinya di atas meja makan.

Selain lodeh, menu kuliner favorit lainnya meliputi tumis kangkung, labu siam, serta tahu dan tempe goreng. Setiap hari Jumat, ada tradisi tak tertulis di mana BJ Habibie selalu meminta dibuatkan Bubur Manado. Menu ini dianggap spesial karena mengandung gizi lengkap, mulai dari berbagai jenis sayuran hingga karbohidrat yang mengenyangkan.

Ada sebuah fragmen memori yang tak terlupakan tentang kecintaan Habibie pada kopi hitam buatannya. Pernah suatu ketika, Sang Profesor sudah berada di dalam kendaraan untuk berangkat kerja, namun ia memutuskan untuk kembali masuk ke rumah hanya demi mengambil cangkir kopinya yang tertinggal—sebuah momen autentik yang juga sempat divisualisasikan dalam film layar lebar mereka.

Resep Rahasia dan Loyalitas Tanpa Batas

Dedikasi Satiyah melampaui tugas seorang koki biasa. Ia pernah mengolah nasi liwet dan berbagai hidangan pendamping untuk menjamu 75 orang tamu seorang diri tanpa bantuan asisten. Baginya, mengelola dapur sendirian justru memberikan kepuasan karena ia bisa memastikan setiap bumbu meresap dengan sempurna.

BJ Habibie pun memberikan pesan khusus kepada Satiyah untuk menjaga kerahasiaan resep keluarga mereka. Itulah sebabnya, ketika kini Wisma Habibie dan Ainun dibuka untuk publik, Satiyah hanya memberikan sampel masakan untuk dipelajari oleh tim katering profesional agar cita rasa asli rumahan tersebut bisa disajikan dengan standar hotel berbintang.

Jodoh dalam Restu Sang Ibu Negara

Hubungan Satiyah dengan keluarga Habibie sudah selayaknya keluarga kandung. Ibu Ainun bukan hanya majikan, melainkan mentor kehidupan yang sangat peduli pada masa depan Satiyah. Bahkan, urusan asmara Satiyah pun tak lepas dari pantauan tajam Ibu Ainun.

Saat didekati oleh seorang pria yang kini menjadi suaminya—yang juga merupakan asisten pribadi Pak Habibie—Satiyah sempat ragu. Namun, setelah ‘diseleksi’ langsung oleh Ibu Ainun, restu pun turun. “Ibu bilang orangnya baik dan rajin shalat. Akhirnya kami menikah,” kenangnya haru. Kini, pernikahan Satiyah telah menginjak usia 32 tahun, sebuah usia pernikahan yang ia harap bisa meniru keabadian cinta Habibie dan Ainun.

Hingga saat ini, Satiyah tetap setia menjaga dapur di kediaman tersebut atas permintaan putra sulung Habibie, Ilham Akbar Habibie. Baginya, setiap piring yang ia sajikan adalah cara untuk merawat kenangan indah bersama pasangan paling romantis di Indonesia itu.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *