Membuka Jalur Harapan: Kereta Wisata Perdamaian DMZ Korea Selatan Kembali Beroperasi Setelah Vakum 6 Tahun
MenitIni — Kabar gembira datang dari Semenanjung Korea bagi para pemburu wisata sejarah dan narasi perdamaian. Kementerian Unifikasi Korea Selatan secara resmi mengumumkan pengaktifan kembali layanan kereta wisata reguler yang menghubungkan Stasiun Seoul menuju Stasiun Dorasan mulai April 2026. Langkah ini menandai berakhirnya penantian panjang selama lebih dari enam tahun setelah layanan tersebut ditangguhkan akibat berbagai dinamika geopolitik dan pandemi.
Simbolisme di Ujung Rel Jalur Gyeongui
Layanan yang kini mengusung nama resmi ‘Kereta Penghubung Perdamaian DMZ’ ini dijadwalkan melayani penumpang secara rutin setiap hari Jumat pada pekan kedua dan keempat setiap bulannya. Perjalanan ini akan menyusuri Jalur Gyeongui, melewati Stasiun Imjingang, hingga akhirnya memasuki Zona Kontrol Sipil yang dijaga ketat sebelum berhenti di tujuan akhir: Stasiun Dorasan.
Sebagai stasiun penumpang paling utara di Korea Selatan, Dorasan bukan sekadar bangunan beton dan rel baja. Terletak hanya 56 kilometer dari Seoul dan 205 kilometer dari Pyongyang, stasiun ini menyimpan beban emosional yang besar. Sebuah prasasti di sana mengingatkan setiap pengunjung dengan kalimat menyentuh: “Ini bukan stasiun terakhir dari Selatan, tetapi stasiun pertama menuju Utara.” Stasiun ini diproyeksikan menjadi titik keberangkatan utama jika kelak jalur kereta menuju Korea Utara benar-benar tersambung kembali secara permanen.
Seremoni Menghubungkan Kembali Perdamaian
Untuk merayakan momen bersejarah ini, pemerintah Korea Selatan menggelar upacara bertajuk “Stasiun Dorasan, Menghubungkan Kembali Perdamaian”. Rangkaian acara dimulai dengan upacara keberangkatan di Stasiun Seoul, diikuti dengan seremoni pembukaan kembali di Stasiun Dorasan, dan ditutup dengan kunjungan ke Camp Greaves. Eks pangkalan militer Amerika Serikat ini kini telah bersalin rupa menjadi pusat kebudayaan dan edukasi di dekat Zona Demiliterisasi (DMZ).
Setidaknya 260 tamu undangan hadir dalam peresmian tersebut, yang mencakup anggota Majelis Nasional, para pembelot Korea Utara, anggota keluarga yang terpisah akibat perang, hingga mahasiswa internasional. Kehadiran mereka menegaskan bahwa jalur kereta api ini adalah simbol harapan bagi banyak pihak yang mendambakan rekonsiliasi.
Kontradiksi di Balik Tembok Perbatasan
Meski kereta wisata ini membawa pesan damai, realitas di lapangan tetap menunjukkan tensi yang fluktuatif. Beroperasinya kembali kereta DMZ terjadi di tengah laporan mengenai aktivitas militer Korea Utara yang mengkhawatirkan. Analisis citra satelit terbaru menunjukkan adanya pembukaan lahan dan pembangunan struktur yang diyakini sebagai tembok pembatas di beberapa titik di dalam zona DMZ sisi utara.
Para pakar militer menilai pembangunan tembok setinggi 2-3 meter tersebut bukan sekadar penghalang anti-tank seperti yang dibangun pada era 1990-an. Shreyas Reddy dari NK News dan Uk Yang dari Asan Institute for Policy Studies berpendapat bahwa struktur ini lebih mengarah pada upaya memperkuat benteng pertahanan dan memisahkan wilayah secara fisik, yang menunjukkan perubahan paradigma kebijakan Pyongyang.
Masa Depan Reunifikasi yang Penuh Teka-teki
Ironi terjadi saat Korea Selatan mengaktifkan kereta perdamaian, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un justru mulai menghapus referensi reunifikasi dari situs web pemerintah dan menghancurkan monumen-monumen persatuan. Sejak awal 2024, Korea Utara secara terbuka menyebut Selatan sebagai “musuh utama”, sebuah pernyataan yang menurut para ahli belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala diplomasi kedua negara.
Kendati demikian, pengoperasian kembali Kereta Penghubung Perdamaian DMZ tetap menjadi pernyataan sikap dari Seoul. Di tengah dinginnya hubungan diplomatik dan pembangunan tembok pembatas, deru mesin kereta menuju Stasiun Dorasan tetap menjadi pengingat bahwa jalur menuju perdamaian tidak boleh benar-benar terputus.