Waspada Katarak pada Anak: Kenali Penyebab, Gejala, dan Langkah Penanganan Sejak Dini

Siska Wijaya | Menit Ini
10 Apr 2026, 14:52 WIB
Waspada Katarak pada Anak: Kenali Penyebab, Gejala, dan Langkah Penanganan Sejak Dini

MenitIni — Selama ini, gangguan penglihatan berupa katarak sering kali diidentikkan sebagai penyakit yang hanya menyerang kelompok lanjut usia. Namun, fakta medis menunjukkan bahwa kondisi di mana lensa mata menjadi keruh ini juga dapat dialami oleh bayi dan anak-anak. Jika tidak segera ditangani, pandangan yang buram dan kabur ini dapat menghambat perkembangan visual serta kualitas hidup sang buah hati.

Akar Masalah: Dari Faktor Genetik hingga Infeksi Kehamilan

Menurut penjelasan dr. Friska D. Anggriany, seorang spesialis mata, penyebab utama katarak pada anak sering kali berakar dari faktor keturunan. Riwayat keluarga yang pernah mengalami katarak sejak usia dini menjadi sinyal waspada bagi para orang tua untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan mata anak mereka.

Selain faktor genetik, kondisi kesehatan ibu saat masa mengandung juga memegang peranan krusial. Infeksi yang menyerang ibu hamil, seperti rubela, toksoplasmosis (tokso), campak, cacar, hingga herpes, dapat menjadi pemicu kuman masuk ke dalam kandungan. Dampaknya, bayi berisiko lahir dengan kondisi lensa mata yang sudah terinfeksi dan keruh sejak persalinan.

Mengenali Gejala Secara Dini pada Bayi dan Siswa

Mengingat anak-anak, terutama bayi, belum bisa mengeluhkan kondisi penglihatannya, orang tua dituntut untuk lebih peka terhadap respons motorik mereka. Gejala awal kesehatan mata yang bermasalah pada bayi bisa dilihat dari kurangnya fokus saat melihat objek. Bayi yang tidak merespons saat dipanggil, tidak berkedip ketika diberi sorotan cahaya, atau abai terhadap mainan di depannya perlu segera diperiksakan ke dokter spesialis.

Sementara itu, pada anak usia sekolah, indikasi katarak sering kali muncul dalam bentuk penurunan prestasi akademik secara tiba-tiba. “Guru di sekolah perlu jeli melihat perilaku siswa. Jika ada anak yang selalu ingin maju ke depan kelas karena tidak bisa melihat tulisan dari barisan belakang, itu bisa menjadi tanda penglihatannya buram akibat katarak,” ungkap dr. Friska dalam sebuah sesi edukasi kesehatan.

Langkah Pencegahan dan Solusi Medis

Pencegahan katarak kongenital (bawaan lahir) sebenarnya bisa diupayakan bahkan sebelum proses kehamilan dimulai. Calon ibu disarankan untuk melakukan skrining kesehatan secara menyeluruh guna memastikan tubuh bebas dari virus atau parasit seperti toksoplasmosis. Kesiapan kesehatan ibu adalah fondasi utama bagi kesehatan organ vital bayi, termasuk mata.

Terkait penanganan, dr. Friska menegaskan bahwa penggunaan obat tetes atau kacamata tidak akan bisa menghilangkan kekeruhan pada lensa mata secara total. Kacamata hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk memperjelas bayangan, namun inti masalahnya tetap ada pada lensa.

Satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi kondisi ini adalah melalui tindakan operasi katarak. Waktu pelaksanaan operasi sangat bergantung pada tingkat keparahan kasus masing-masing anak. Namun, pada bayi, operasi disarankan dilakukan sesegera mungkin jika diameter katarak sudah melebihi 3 mm atau menutupi lensa secara signifikan, mengingat mata mereka sedang dalam masa pertumbuhan emas yang membutuhkan stimulasi visual yang jernih.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *