Waspada Gejala Katarak yang Sering Terabaikan, Simak Penjelasan Ahli dan Cara Mengatasinya
MenitIni — Gangguan penglihatan akibat katarak sering kali datang tanpa permisi. Ia tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan mengendap perlahan dalam hitungan bulan hingga tahun, membuat banyak penderitanya terjebak dalam rasa aman yang semu karena tidak menyadari penurunan kualitas penglihatan mereka.
Ancaman yang Mengintai Secara Perlahan
Dokter spesialis mata konsultan katarak dan bedah refraksi, dr. Amir Shidik, mengungkapkan bahwa katarak pada dasarnya merupakan bagian alami dari proses penuaan tubuh manusia. Namun, sifatnya yang progresif namun lambat sering kali menjadi bumerang bagi penderita.
“Katarak ini terjadi secara perlahan, hitungannya bisa bulan hingga tahun. Inilah yang membuat pasien sering kali tidak sadar bahwa penglihatan mereka sebenarnya sudah mulai menurun,” ujar dr. Amir dalam sebuah diskusi panel di Jakarta Selatan baru-baru ini. Meski ada jenis katarak traumatik yang berkembang lebih cepat, mayoritas kasus yang ditemukan berkaitan erat dengan faktor usia.
Memahami Kondisi Lensa Mata
Secara medis, katarak adalah kondisi di mana lensa mata yang semula jernih berubah menjadi keruh. Kondisi ini bisa menyerang salah satu mata saja atau keduanya sekaligus. Kabar baiknya, kekeruhan ini tidak bersifat menular dari satu mata ke mata lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi ini akan terus memburuk dan menghambat aktivitas sehari-hari jika tidak segera mendapatkan penanganan kesehatan mata yang tepat.
Data menunjukkan bahwa prevalensi katarak mencapai 50% pada kelompok usia 52 hingga 64 tahun. Angka ini melonjak drastis hingga 70% saat seseorang menyentuh usia 70 tahun.
Kenali Gejala yang Sering Diabaikan
Menyadari gejala katarak sejak dini sangatlah krusial. Beberapa indikasi yang perlu Anda waspadai antara lain:
- Pandangan yang terasa berkabut atau seperti melihat dari balik kaca yang kotor.
- Rasa silau yang berlebihan saat berkendara di malam hari atau dalam cuaca hujan.
- Perubahan pada persepsi warna yang tidak setajam biasanya.
- Ukuran kacamata yang sering berubah dalam waktu singkat.
- Fenomena second sight, di mana penglihatan jarak dekat membaik secara tiba-tiba namun penglihatan jauh semakin kabur.
- Munculnya titik putih pada lensa mata (pada tahap katarak yang sudah matang).
- Gejala ini umumnya muncul tanpa disertai rasa nyeri maupun mata merah.
Hanya Operasi yang Menjadi Solusi Utama
Hingga saat ini, dr. Amir menegaskan bahwa belum ada obat tetes mata atau suplemen yang terbukti secara medis mampu menghilangkan kekeruhan pada lensa mata. Satu-satunya jalan keluar untuk mengembalikan kejernihan penglihatan adalah melalui prosedur operasi katarak.
“Tindakan operasi tidak perlu menunggu katarak sampai ‘matang’. Prosedur ini bisa dilakukan pada semua tahap kekeruhan jika memang sudah mengganggu kualitas hidup pasien,” jelas dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut.
Dalam prosedur yang relatif cepat dan minim rasa sakit ini, lensa yang keruh akan diangkat dan diganti dengan lensa buatan atau intraocular lens (IOL). Dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, pasien biasanya dapat langsung merasakan perubahan signifikan pada penglihatannya setelah masa pemulihan.
Mengabaikan katarak bukan tanpa risiko. Tanpa tindakan medis, kekeruhan yang semakin berat dapat berujung pada kebutaan total, yang tentunya meningkatkan risiko kecelakaan dan hilangnya kemandirian penderitanya.