Menuju Revolusi Hijau: Indo Intertex & Inatex 2026 Siap Guncang Industri Tekstil Global dari Jakarta

Rendi Saputra | Menit Ini
09 Apr 2026, 08:21 WIB
Menuju Revolusi Hijau: Indo Intertex & Inatex 2026 Siap Guncang Industri Tekstil Global dari Jakarta

MenitIni — Industri tekstil dan garmen tanah air tengah bersiap menyambut babak baru yang lebih hijau dan kompetitif. Melalui gelaran akbar Indo Intertex & Inatex 2026, fokus industri kini tidak lagi hanya sekadar memacu angka produksi, melainkan mulai bertransformasi menuju aspek keberlanjutan yang lebih dalam dan terintegrasi secara global.

Presiden Direktur Peraga Expo, Paul Kingsen, mengungkapkan bahwa edisi pameran kali ini membawa napas yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Isu keberlanjutan atau sustainability akan menjadi ruh utama dalam setiap sesi diskusi dan pameran teknologi yang ditampilkan. Hal ini menandai pergeseran paradigma para pelaku usaha untuk menyelaraskan diri dengan tuntutan pasar dunia yang semakin peduli lingkungan.

Menghadirkan Perspektif Global dalam Isu Textile to Textile

Langkah nyata untuk membawa wawasan internasional dilakukan dengan menghadirkan pakar dari luar negeri. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa Sastraadmadja, memastikan bahwa akan ada tiga pembicara tamu—satu dari Italia dan dua dari India—yang akan membedah strategi masa depan tekstil dunia. Kehadiran pembicara global ini merupakan sejarah baru bagi perjalanan Indo Intertex.

Salah satu topik hangat yang akan dikupas tuntas adalah konsep Textile to Textile (ToT). Meski diakui perjalanannya di Indonesia masih cukup panjang, Jemmy menegaskan bahwa edukasi harus dimulai sejak dini agar industri tekstil lokal tidak tertinggal. “Kami ingin pelaku industri dan regulator di dalam negeri memiliki kesadaran yang sama dengan tren global, khususnya mengenai pengolahan kembali limbah tekstil menjadi produk baru,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta.

Urgensi Infrastruktur Gas dan Energi Hijau

Selain teknologi mesin, tantangan besar yang dihadapi adalah ketersediaan energi yang efisien. Jemmy menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur gas yang menjangkau sentra produksi utama seperti Bandung Raya dan Solo Raya. Menurutnya, pemindahan kawasan industri merupakan hal yang sulit secara logistik dan finansial, sehingga mendekatkan infrastruktur ke titik industri yang sudah ada menjadi solusi paling rasional.

Integrasi gas bumi ke kawasan industri diharapkan menjadi pemancing bagi para investor, baik lokal maupun asing, untuk menanamkan modalnya dalam pengembangan teknologi hijau. Keberanian investor akan muncul jika ada jaminan infrastruktur yang mendukung efisiensi operasional jangka panjang.

Lebih dari Sekadar Pameran Dagang

Menempati lahan luas lebih dari 35.000 meter persegi di JIExpo Kemayoran, Indo Intertex & Inatex 2026 diproyeksikan diikuti oleh lebih dari 800 peserta yang membawa 1.500 merek global. Targetnya tidak main-main, yakni kehadiran 35.000 pengunjung profesional dari 29 negara. Pameran ini dirancang sebagai ruang kolaborasi strategis melalui program business matching untuk mempertemukan para penyedia teknologi dengan produsen garmen secara langsung.

Tidak hanya urusan bisnis teknis, sisi estetika dan edukasi juga tetap terjaga. Pengunjung dapat menikmati seminar, workshop interaktif, hingga trunk show yang menampilkan mahakarya desainer dari Indonesia Fashion Chamber (IFC). Kolaborasi ini membuktikan bahwa ekosistem bisnis tekstil Indonesia adalah perpaduan antara kecanggihan mesin dan kreativitas seni yang tinggi.

Angin Segar dari Kesepakatan Dagang Amerika Serikat

Salah satu sorotan paling strategis dalam pameran ini adalah pembahasan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat. Melalui skema tariff-rate quota (TRQ), produk tekstil Indonesia akan menikmati fasilitas tarif impor nol persen ke pasar Negeri Paman Sam.

Langkah diplomasi ekonomi ini dianggap sebagai titik balik kebangkitan industri tekstil nasional. Dengan akses pasar yang lebih luas, kebijakan ini diperkirakan akan memberikan dampak ekonomi langsung bagi sekitar 20 juta masyarakat yang bergantung pada sektor ini, termasuk menghidupkan kembali produktivitas 4 juta tenaga kerja ahli di bidangnya. Indo Intertex & Inatex 2026 yang berlangsung pada 15–18 April 2026 mendatang diharapkan menjadi momentum resmi bagi kebangkitan ekspor tekstil Indonesia di panggung dunia.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *