Waspada Modus Penipuan Deepfake: Mencatut Nama Tokoh Publik untuk Jerat Korban

Bagus Pratama | Menit Ini
08 Apr 2026, 12:02 WIB
Waspada Modus Penipuan Deepfake: Mencatut Nama Tokoh Publik untuk Jerat Korban

MenitIni — Kemajuan teknologi bak pisau bermata dua. Di satu sisi memudahkan hidup, namun di sisi lain menjadi senjata bagi para pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksi penipuan yang semakin presisi. Salah satu taktik yang kini kian meresahkan adalah penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan video manipulasi atau deepfake yang mencatut nama serta wajah tokoh publik terkenal.

Metode ini tergolong licin karena memanfaatkan popularitas dan kredibilitas tokoh nasional untuk menjerat masyarakat yang kurang waspada. Para pelaku tidak sekadar menyebar informasi palsu, melainkan merancang narasi sedemikian rupa agar korban merasa mendapatkan kesempatan eksklusif, seperti bantuan finansial atau promosi barang mewah dengan harga tak masuk akal.

Tim redaksi kami telah merangkum beberapa temuan krusial mengenai deretan hoaks yang menggunakan identitas tokoh ternama demi melindungi Anda dari potensi kerugian finansial.

1. Manipulasi Sosok “Menteri Keuangan” Purbaya Yudhi Sadewa

Salah satu kasus yang sempat mencuat adalah beredarnya video yang mengklaim Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan yang tengah menjanjikan bantuan khusus bagi kaum lansia. Dalam unggahan di platform Facebook tersebut, pelaku menyertakan nomor WhatsApp yang diklaim sebagai milik ‘bendahara’ untuk mencairkan bantuan.

Secara faktual, Purbaya Yudhi Sadewa adalah Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), bukan Menteri Keuangan. Video tersebut merupakan hasil manipulasi visual dan suara yang bertujuan mengarahkan korban ke percakapan pribadi di WhatsApp, di mana skema penipuan online biasanya dimulai dengan permintaan data pribadi atau biaya administrasi palsu.

2. Janji Modal Usaha Mengatasnamakan Mahfud MD

Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, juga menjadi sasaran empuk para produsen berita bohong. Sebuah narasi digital menampilkan sosok beliau yang seolah-olah mengumumkan pembagian dana hibah untuk modal usaha tanpa melalui proses undian. Kalimat yang digunakan sangat persuasif, mengklaim bahwa sistem algoritma Facebook telah memilih akun korban sebagai penerima yang sah.

Modus ini sering kali membidik kalangan menengah ke bawah yang sedang membutuhkan suntikan dana. Dengan bumbu narasi religius dan janji transfer instan, pelaku mencoba meruntuhkan nalar kritis masyarakat agar segera menghubungi nomor yang tertera di kolom deskripsi.

3. Hoaks Tebus Murah Motor Motor Rp600 Ribu oleh Gibran Rakabuming

Nama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga tak luput dari pencatutan. Kali ini, pelaku menggabungkan nama Gibran dengan pesohor Raffi Ahmad dalam sebuah skema promosi fiktif bertajuk “Tebus Murah Sepeda Motor Rp600 Ribu”. Video tersebut menggunakan teknik dubbing atau manipulasi suara AI agar terdengar seolah-olah sang Wapres memberikan testimoni langsung terhadap program tersebut.

Logika sederhana seharusnya menjadi benteng utama; tidak ada program resmi pemerintah atau toko ritel ternama yang menjual unit motor baru dengan harga serendah itu. Namun, tekanan psikologis berupa ‘kuota terbatas’ sering kali membuat orang terburu-buru mengambil keputusan tanpa melakukan cek fakta terlebih dahulu.

Cara Menghindari Jeratan Penipuan Berbasis Tokoh Publik

Untuk menghindari jebakan siber ini, ada beberapa langkah preventif yang bisa Anda lakukan:

  • Verifikasi Sumber: Selalu cek akun resmi tokoh yang bersangkutan. Akun resmi biasanya memiliki centang biru (verified).
  • Perhatikan Detail Video: Video deepfake sering kali memiliki gerakan bibir yang tidak sinkron atau kedipan mata yang tidak natural.
  • Waspadai Permintaan Dana: Program bantuan resmi pemerintah tidak pernah meminta biaya administrasi di awal melalui WhatsApp pribadi.
  • Cek Melalui Kanal Resmi: Gunakan situs resmi kementerian atau lembaga terkait untuk memastikan kebenaran informasi bantuan sosial.

Mari lebih bijak dalam menyaring informasi di ruang digital. Melawan hoaks bukan hanya tugas otoritas terkait, melainkan tanggung jawab kita bersama untuk menciptakan ekosistem internet yang sehat dan aman.

Bagus Pratama

Bagus Pratama

Pengamat otomotif dan teknisi bersertifikat. Gemar menguji coba (test drive) kendaraan terbaru dan memberikan ulasan jujur untuk pembaca.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *